[Review] Thank You, Salma  – Erisca Febriani (2019)

[Review] Thank You, Salma – Erisca Febriani (2019)

“Marahnya kamu tuh aneh, Sal. Nggak bikin sebal, justru bikin sayang.” (hal 95)

Membaca kutipan di atas, pasti pembaca langsung bisa menebak karakter yang mengucapkannya. Yah, Nathan. Setelah menyapa pembaca di seri kedua yang berjudul Hello Salma, kini cowok itu kembali melancarkan rayuan gombalnya pada Salma.

Seri ketiga bertajuk Thank You Salma. Novel ini dimulai dengan kasus pelecehan yang dialami oleh Zanna, teman sekelas Nathan di kampus. Cewek itu naik gunung bersama teman-teman Mapala yang seluruhnya laki-laki. Ternyata hal itu “dimanfaatkan” Rio (salah satu teman Mapala) untuk melakukan hal tidak senonoh pada Zanna. Akibatnya, perempuan itu berubah menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup, bahkan jarang berangkat kuliah.

Cerita berlanjut dengan bergabungnya Zanna dalam komunitas Love Yourself. Melalui komunitas itu, Zanna mencoba bangkit dari keterpurukan dan traumanya. Melihat itu, Rebecca meminta bantuan pada Nathan untuk menyelesaikan kasusnya.

“Lalu Salmanya mana? Kok malah jadi Zanna terus sih? Tokoh utamanya ganti?”

Sabar dong pemirsa, ini nih baru mau saya jelaskan tentang Salma. Di sela-sela menangani kasus Zanna, Nathan nih masih dekat dengan Salma. Namun, mereka dekat hanya sebatas teman tanpa status. Yah, bisa disebut TTM (teman tapi mesra) gitulah. Hubungan mereka yang tampak rumit, sebenarnya bisa disederhanakan. Tapi, yah ada beberapa hal yang mengahambat mereka melakukan itu.

“Cowok tuh lahir sebagai pejuang, dulu berjuang dapetin kamu… setelah dapat, perjuangannya beda lagi, gimana caranya supaya mempertahanin yang udah ada.” (hal 29)

Sebelum masuk ke ulasan, saya mau apresiasi dulu cover novel ini. Cantiiik banget. Sederhana, tapi mengena. Sebelumnya saya nggak paham dengan maksudnya, tapi di bagian pertengahan menjelang akhir akan dijelaskan maknanya. Dari seluruh seri Dear Nathan, cover novel ini paling ciamik!

Yuk mari masuk ke ulasannya! Pada cerita kali ini, Erisca menghadirkan karakter baru, yakni Zanna. Zanna ini adalah korban pelecehan seksual dari temannya di Mapala. Dia ingin melaporkan pelaku, tapi takut, karena ayah pelaku adalah dosen di kampusnya (benarkan kalau salah ya, saya lupa-lupa inget soalnya). Nah, karena terkena kasus ini, Zanna masuk komunitas Love Yourself dan mengenal Rebecca dan Salma.

Sesaat setelah membaca prolog dan bab 1, saya langsung teringat kasus pelecehan seksual yang terjadi di salah satu PTN di Jogja. Mungkin itu kali ya formulanya Erisca dalam meramu setiap ceritanya? Kalau diingat-ingat, Hello Salma mengambil tema depresi yang saat itu juga baru hangat-hangatnya.

Tapi nggak masalah juga sih. Justru dengan disinggungnya permasalahan yang masih dianggap tabu seperti itu dalam novel, diharapkan akan membuat pemikiran kita jadi semakin terbuka. Bahwa pelecehan itu terjadi nggak melulu salah perempuan (seperti tuduhan banyak orang), tetapi juga adanya oknum pria bejat. Bahkan wanita berpakaian sopan dan tertutup pun bisa yang mengalaminya.

“Dunia tuh nggak adil sama cewek. Selalu cewek yang diharuskan menjaga diri dan etika berpakaian, tapi cowok juga seharusnya sadar sebagai manusia berakal. Jangan semua beralasan karena nafsu.” (hal 130)

Bicara mengenai karakter, saya masih suka dengan Nathan yang begitu spontan dengan semua hal. Dia itu bad boy, tapi juga good boy pada beberapa hal. Jangan lupa juga dengan gombalannya yang pernah membuat Salma bertekuk lutut! Karakter ini masih membuat saya terkikik dengan setiap dialog ataupun monolognya.

Salma juga masih konsisten. Perempuan cerdas, pecinta sastra, dan begitu kaku. Kalau selama ini orang-orang berkoar-koar tentang kesetaraan gender, si Salma ini termasuk perempuan yang belum menerapkannya. Gimana bisa? Dalam novel ini, dia masih menganggap bahwa ‘nembak’ adalah tugas seorang laki-laki, perempuan cukup menunggu saja.

Ini yang membuat saya geregetan. Perempuan cerdas dan berpikiran terbuka sepertinya harusnya tak abai dengan prinsip semacam itu. Bukannya malah terus mengeluh pada Rahma tentang Nathan yang tak juga menyatakan perasaannya. Malah nyalahin cowok itu karena dianggap nggak peka! Ya ampuuun!

Selain dua tokoh sentral itu, Rebecca masih memiliki andil dalam cerita. Namun, kisahnya tetap tak ada kejelasan seperti halnya pada seri kedua. Oh iya, ada satu lagi tokoh baru. Afkar. Dia ini senior Salma di kampus, yang bisa dibilang sempurna. Pintar, aktif, ganteng, apa lagi ya… jago buat puisi lagi!

“Cewek tuh kalau ngambek aneh, kita jadi suruh nebak. Kalau ditanya kenapa marah, jawabnya pikir aja sendiri, dikiranya cowok itu tukang baca pikiran kali ya?” (hal 16)

Novel yang menggunakan alur maju ini bersetting di Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, dan sekitarnya. Pada bab-bab awal, pembaca diajak untuk mengikuti perjuangan Zanna, Nathan, dan Rebbeca. Kemudian, di pertengahan hingga akhir, Erisca lebih banyak menceritakan kisah Nathan dan Salma.

Secara umum, saya suka dengan gaya bercerita penulis, membuat saya terus membuka halaman demi halaman, sampai selesai. Meskipun kalau dibanding dengan Hello Salma, saya masih suka seri itu dari pada ini.

“Sebetulnya, hal paling mengerikan dari jarak adalah kamu tidak tahu bahwa seseorang yang jauh di sana itu sedang merindukanmu atau berusaha melepaskanmu.” (hal 379)

Setelah menutup buku ini, ada beberapa hal yang baru saya sadari. Entah kenapa, saya langsung teringat pada trilogi Dilan. Ada beberapa poin yang membuat saya teringat, apalagi bagian paling akhir cerita (penulis mengimbau untuk tidak disebarkan). Kalau kamu sudah membaca novel ini, pasti tahu deh bagian mana yang membuat saya teringat itu.

Selain itu, saya merasa bahwa pembahasan mengenai penyelesaian kasus Zanna terasa nggak utuh. Pada bagian awal hingga pertengahan, penulis menguraikan banyak hal tentang cewek itu. Tetapi mulai sepertiga akhir, pembahasannya sangat minim dan kasus itu dipaksa untuk selesai. Sedihnya, menurut saya kalau kasus Zanna ini nggak dimasukan, cerita tetap berjalan kok.

Rasanya sangat berbeda dengan Hello Salma. Ketika itu, memang Salma yang menjadi sorotan utamanya, Rebecca menjadi jembatan bertemunya Nathan dan gadis itu. Namun, saya nggak menemukan jembatan itu di sini. Mungkin akan lebih mengena seandainya Salma yang mengalami hal itu (sebagai pengganti Zanna) dan Nathan membantu menyelesaikan kasusnya.

Konfliknya… saya rasa juga kurang nendang. Apalagi sepertiga akhir buku, rasanya seperti diburu-buru. Meskipun begitu, cerita ini tetap dapat dinikmati kok. Dialognya Nathan tetap jempolan dan membuat pembaca terhibur.

“Enak banget ya jadi cowok, ngelakuin sesuatu alasannya khilaf. Nanti giliran ada kasus pelecehan, perempuan deh yang disalahin.” (hal 68)

Ada beberapa sentilan yang dituliskan dalam novel ini. Ini beberapa di antaranya:

“Koruptor yang mati aja, azabnya nggak kelihatan. Tuhan tuh baik.” (hal 13)

“Gue nggak suka nih rahasianya cewek gini, bilangnya rahasia kita berdua aja tapi ujungnya diceritain ke banyak orang.” (hal 32)

“… pejuang LDR tuh tangguh lho, tapi nggak seberapa sih sama orang yang digantungin perasaannya. Katanya sih teman, tapi mesranya kadang berlebihan.” (hal 43)

 “Udah deh jangan suka mikir aneh-aneh, manusia tuh begitu… overthinking, mikirin hal-hal yang belum tentu kejadian.” (hal 86)

 “Semua yang ganteng bakal kalah sama yang bikin kepastian.” (hal 106)

“Pers mahasiswa itu kan harusnya jadi organisasi yang independen, kalau ada kebijakan kampus nggak bagus harus dikritik. Jangan mau dibungkam, mentang-mentang didanai mereka.” (hal 156)

Mungkin begitu aja ya review saya kali ini. Kesimpulannya, penutup trilogi Dear Nathan ini terasa kurang nendang di beberapa bagian, tapi tetap asik dan nyaman diikuti. Saya beri 3 dari 5 bintang untuk Thank You Salma. Selamat membaca!

Judul                            : Thank You, Salma

Penulis                         : Erisca Febriani

Cetakan                       : Pertama, Oktober 2019

Penerbit                       : Sunset Road

Halaman                      : 400 halaman

ISBN                            : 978-623-91151-3-5

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: