[Resensi] Guru Asyik, Murid Fantastik!: Menumbuhkan Rasa Senang Belajar pada Anak

[Resensi] Guru Asyik, Murid Fantastik!: Menumbuhkan Rasa Senang Belajar pada Anak

Selama ini, belajar identik dengan sesuatu yang membosankan dan tidak menyenangkan. Tak ayal bila banyak anak yang kurang menyukainya. Padahal belajar dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan bila dilakukan dengan cara yang tepat.

Di sekolah, guru memiliki peranan penting untuk mengubah persepsi itu. Salah satu caranya adalah dengan bertransformasi menjadi guru yang tidak kaku. Pendidik yang kaku, tidak banyak disukai siswa. Mereka akan merasa takut, tertekan, dan terkekang selama pembelajaran. Hal itu akan menyebabkan pembelajaran tidak berjalan maksimal. Buntutnya, prestasi belajar akan rendah. Apalagi di era seperti saat ini, karakter pendidik demikian sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan pada siswa.

Guru yang kreatif lebih disukai siswa. Pendidik dengan karakter seperti itu tidak akan membuat suasana belajar menjadi mencekam atau membosankan. Murid akan belajar dengan rileks dan nyaman, sehingga dapat membuat mereka tertarik dan senang untuk belajar.

Pendidik yang kreatif akan dirindukan oleh murid (hal 179). Banyak kejutan yang selalu dibawa setiap harinya, sehingga siswa selalu penasaran. Ia mampu memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah menjadi sarana, media, bahkan metode pembelajaran. Ia juga mampu membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami.

Metode mengajar yang digunakan pun tidak monoton. Banyak variasi cara mengajar yang digunakan dalam setiap pembelajaran, sehingga tidak membuat bosan. Buku ini dapat menjadi panduan bagi pendidik yang ingin bertransformasi menjadi guru kreatif. Uraian mengenai berbagai metode pembelajaran masa kini, ditulis lengkap berserta langkah pelaksanaan dan manfaatnya.

Ulasan mengenai metode pembelajaran dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama adalah penjelasan mengenai cara belajar dari lingkungan. Pada bagian ini, penulis menjabarkan banyak opsi kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan lingkungan sekolah. Selain akan membuat pembelajaran menyenangkan dan tidak monoton, anak juga dapat belajar tentang pendidikan karakter.

Bagian kedua adalah belajar dengan menggunakan teknologi. Guru dapat memanfaatkan teknologi setiap kali tatap muka. Misalnya menggunakan Edmodo, media sosial, Quipper, Telegram, dan berbagai media edukatif lainnya. Namun, dalam pelaksanaannya diperlukan kesiapan sarana dan prasarana, serta bimbingan yang ketat oleh pendidik, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pembelajaran kreatif merupakan bagian ketiga. Pada bagian ini, siswa diajak belajar dengan cara yang menyenangkan dan menuntut pemikiran kritis dari mereka. Pendidik dapat menerapkan prinsip belajar sambil bermain. Tak melulu seputar kegiatan kognitif, anak juga diajak untuk bermain dengan otak kanan mereka. Kreatifitas, kerja sama, dan rasa percaya diri dapat dilatih menggunakan metode ini. Sehingga, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak dapat berkembang dengan baik. Adapun contoh metode pembelajaran kreatif antara lain mind mappingsiap simpleturn back bookwho am I, kartu berpasangan, dan lainnya.

Metode pembelajaran yang telah diuraikan di atas, sesuai dengan konsep pembelajaran abad 21. Konsep ini menganut prinsip model pembelajaran yang mengarahkan dan mengajak peserta didik untuk memiliki kecakapan 4C, yakni communicative, collaborative, critical, dan creativity (hal 21). Pembelajaran abad 21 ini diharapkan akan melahirkan guru kreatif yang memiliki kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi yang baik, serta dapat menjadi teladan bagi siswanya. Sehingga akan membentuk peserta didik yang berbudi luhur, dan mampu berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah (hal 32).

Oleh karena itu, menjadi kreatif sangat penting untuk dimiliki oleh pendidik. Setiap hari, guru harus mendesain pembelajaran yang berbeda. Sesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan karakteristik siswa dan konsep pembelajaran terbaru. Pembelajaran yang menarik akan membuat anak antusias dan senang untuk belajar, sehingga kelak akan menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta pada hari Sabtu-Minggu, 02-03 Februari 2019

3 comments found

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: