[Review] Hello Salma – Erisca Febriani (2018)

[Review] Hello Salma – Erisca Febriani (2018)

“Cewek emang aneh ya, dia yang mutusin terus dia yang nangis seolah paling tersakiti.” (hal 38)

Hello Salma merupakan sekuel dari novel laris karya Erisca Febriani yang berjudul Dear Nathan. Bila novel pertamanya lebih banyak menceritakan tentang Nathan dan permasalahannya, di sekuelnya ini gantian Salma yang menjadi fokus cerita. Novel ini menceritakan Salma dan segala permasalahan tentang keluarga dan masa depannya.

Cerita dibuka dengan cek cok antara Nathan dan Dimas. Awalnya, Dimas hanya mengejek Nathan yang sudah tidak merokok lagi. Perdebatan antara kedua lelaki itu semakin panas ketika Dimas menjelek-jelekan Salma. Nathan naik pitam. Ia hajar Dimas hingga babak belur. Permasalahan ini pun diselesaikan dengan melibatkan kepala sekolah dan wali murid. Wali Dimas menuntut agar Nathan dikeluarkan dari sekolah bila tidak meminta maaf atas sikapnya. Remaja itu tetap tidak mau meminta maaf karena memang itu bukan salahnya. Nathan akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah.

Keputusan Nathan untuk keluar dari sekolah membuat Salma sedih. Ia mencoba membujuk pacarnya itu agar meminta maaf pada Dimas, tapi Nathan menolak. Salma pun mengancam Nathan bahwa ia akan memutuskan hubungan. Nathan yang tetap teguh pada pendiriannya, memilih untuk putus dan pindah ke sekolah lain.

Putusnya hubungan mereka sekaligus pindahnya Nathan membuat hari Salma kembali monoton dan membosankan. Sejak itu pula permasalahan selalu menaungi dirinya. Orang tuanya mulai menekannya untuk belajar dengan tekun agar masuk kedokteran UI. Padahal, kedokteran bukanlah passion Salma. Tak hanya itu, mereka juga melakukan berbagai cara agar anaknya berhasil. Namun, berbagai kenyataan pahit terjadi pada Salma. Semua orang kecewa. Pun dengan dirinya. Ia selalu menyendiri hingga ia depresi. Ia berada di titik terbawah dalam sejarah hidupnya.

Sementara itu, Nathan di lingkungan barunya, bertemu dengan seorang yang mirip dengan ibunya. Perempuan bernama Rebecca itu mengalami gejala depresi, hingga berkali-kali mencoba bunuh diri. Gadis itu dibully di sekolah karena menulis sesuatu yang buruk di sosial media. Ia tak punya teman dan semakin terpuruk. Nathan bertekad untuk membantunya, membuatnya menjadi seperti sedia kala agar temannya itu tidak bernasib sama seperti ibunya.

“Zaman sekarang jempol itu lebih tajam dari lidah, sesuatu yang lo kira lucu itu bisa nyakitin hati orang lain.” (hal 60)

“Kalau udah nggak sanggup nahan beban di kepala minta tolong. Cerita sama orang terdekat lo, cerita di medsos nggak bakal bisa memperbaiki masalah, justru nambah masalah.” (hal 62)

“Seseorang yang menderita kesehatan mental emang kadang-kadang kelihatan normal, tapi orang nggak pernah tahu masalah di balik senyumannya.” (hal 167)

“Kunci utama untuk mengatasi gejala depresi adalah bicara.” (hal 168)

Hello Salma merupakan novel pertama Erisca Febriani yang saya baca. Dear Nathan saya nggak baca novelnya karena sudah lebih dulu nonton filmnya. Saya baca novel ini sebenarnya juga karena penasaran sama kelanjutan kisah Nathan. Hello Salma sudah masuk proses produksi film. Saya ingin mereview novelnya dulu sebelum menonton filmnya.

Secara umum saya suka ide ceritanya. Novel ini nggak hanya menjual kisah romansa Nathan dan Salma, tapi lebih dari itu. Penulis mengangkat isu depresi yang saat ini sedang populer. Penulis merangkai kisah cinta Nathan dan Salma dengan depresi yang dialami para tokohnya. Menurut saya, penulis berhasil menggabungkan kedua komponen ini.

Saya juga menyukai gaya bercerita penulis. Menggunakan sudut pandang orang ketiga, membuat pembaca memahami pemikiran masing-masing tokoh. Namun, hal ini juga menyebabkan ceritanya menjadi cukup ngambang. Saya merasa bagian Rebecca ketika depresi dan dibully kurang dieksplore hingga saya kurang bisa merasakan betapa menderitanya dia. Bahkan bagian ketika dibully hanya diceritakan saja, tidak ditunjukan bagaimana dia dibully oleh temannya. Pun dengan depresi yang dia alami. Saya sangat menyayangkan bagian ini yang seperti berlalu begitu saja.

“Ketika kamu berpikir kalau hidupmu tidak berguna, itu adalah racun. Bisikan itu berusaha menghancurkan kekuatan besar dalam dirimu. Kamu harus percaya bahwa kamu lebih kuat daripada apa yang kamu percaya, lebih kuat daripada apa yang kamu lihat, dan lebih pintar daripada apa yang kamu pikirkan.” (hal 159)

“Nggak usah ngrendahin orang lain buat naikin derajat lo. Jadi cewek emang harus jual mahal. Biar cowok tahu artinya perjuangan.” (hal 218)

“Peraturan pertama apabila ingin melupakan seseorang adalah berhenti mencari tahu.” (hal 114)

Saya juga merasakan beberapa keganjilan dalam novel ini. Nasib Rebecca bagaimana? Entahlah, tapi saya merasa nggak adil dengan Rebecca. Sejak awal, dia menderita. Kemudian bertemu dan menyembuhkan depresinya dengan Nathan. Namun setelah semua yang ia jalani dan perbuat, ia tak memiliki akhir yang jelas dan bahagia.

Sebenarnya ada beberapa bagian lagi yang membuat saya mengernyitkan dahi. Akan tetapi, saya nggak akan share di sini karena nanti malah spoiler. Maaf ya semuaaa 

Meskipun begitu, saya sangat terhibur setelah baca novel ini. Dialog Nathan yang begitu luwes dan receh banget, membuat saya selalu penasaran dan ingin tahu dengan dialog-dialog ia selanjutnya. Entah kenapa dialognya itu tetep buat saya senyum-senyum nggak jelas, haha. Kalian juga wajib baca, biar tahu! Apalagi novel ini juga akan diangkat ke layar lebar.

Novel ini masih banyak salah ketik. Yang ini termaafkan oleh Nathan yang bikin saya berasa balik ke masa-masa SMA.

“Males jadi orang pintar. Orang pintar itu terlalu serius, hidupnya ambisius. Hidup kayak gitu tuh capek, kayak hidup dalam arena balapan. Fokusnya Cuma satu, mau jadi yang terdepan, jadinya lupa untuk mengamati sekeliling, lupa kalau ada banyak hal lebih penting dan lebih menyenangkan di dekatnya dibandingkan fokus di depan.” (hal 57)

“Salah satu cara untuk menikmati bukan dengan menyalahkan takdir ataupun berpikir telah lahir di kehidupan yang salah, melainkan berusaha untuk membuka hati lalu membiasakan diri.” (hal 347)

Saya pikir itu saja review untuk novel ini. Saya berikan 3,5 dari 5 bintang untuk novel ini. Selamat membaca!

Identitas Buku

Judul               : Hello Salma

Penulis             : Erisca Febriani

Cetakan           : Pertama, Maret 2018

Tebal               : 384 halaman

Penerbit         : Coconut Books

ISBN               : 978-602-5508-23-3

*Review ini pernah diposting di blog lama saya pada 13 September 2018

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: