My Journey to See Super Junior in Bangkok
Hai semuanyaaa! Niki kembali lagi nih!
Hari ini saya mau cerita tentang suatu hal yang cukup membuat tergelitik. Pengalaman ini sudah hampir empat bulan berlalu, tapi rasanya … saya masih nggak percaya ternyata seorang Niki bisa ya melakukannya.
Sesuai dengan judul tulisan ini, saya mau cerita tentang perjalanan dan pengalaman saya menonton konser Super Junior di Bangkok. Dalam mimpi terliar pun, saya nggak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Nonton konser Super Junior, ya, tentu saya pernah membayangkannya. Akan tetapi untuk menontonnya di luar negeri, mungkin agak di luar ekspektasi.
Kenapa Memilih Nonton Super Show 10 di Luar Negeri?
Kita berangkat dari pertanyaan ini dulu ya. Kenapa kok saya memilih nonton SS10 di Bangkok. Mengapa tidak di Jakarta saja? Sesungguhnya, alasannya cukup kompleks, saya akan jelaskan satu per satu.
Pertama, saya kurang suka dengan venue SS10 di Jakarta. Saat pengumuman lokasi konser, sejujurnya saya cukup kecewa dengan pemilihan tempat. Kenapa harus di ICE BSD? Bukannya bagaimana yaa. Tapi ini konser Super Show pertama buat saya, dan saya nggak mau punya pengalaman yang kurang baik dengan itu. Namun, setelah saya pikir-pikir, tak apa di ICE BSD asalkan harganya masuk akal.
Kedua, nyatanya promotor merilis harga yang di luar ekspektasi. Saya paham bahwa promotor sering memberikan harga yang lebih tinggi dari pada yang lain. Akan tetapi saya nggak menduga akan semahal ini. Saya tampilkan yaa price list-nya di bawah. Saya nggak mau membayar mahal hanya untuk mengeluh setelah konser. Padahal ini Super Show pertama, saya nggak mau kesan yang muncul justru negatif.

Ketiga, nyatanya semesta mendukung saya nggak nonton SS10JKT karena bertepatan dengan acara keluarga yang segan saya tinggalkan. Sebenarnya ini alasan yang paling kuat di antara kedua alasan yang lain. Setelah saya liburan ke luar negeri pada bulan Juli 2025, saya nggak mau muncul omongan kurang baik yang lain, hehehe.
Kenapa Memilih di Bangkok?
Awalnya, saya nggak niat nonton di Bangkok, hahaha! Sejujurnya, Bangkok nggak pernah ada di list negara yang mau saya datangi untuk nonton konser. Selain kendala bahasa, saya nggak mau keluar budget untuk tiket pesawat lagi. Tentu semua akan jadi bengkak semua budget saya.
Saya pilih nonton di Kuala Lumpur. Bahasa masih bisa saya pahami, harga tiket pesawat juga masih bisa dijangkau. Namun, price list SS10KL nggak kunjung keluar. Terlebih Super Show di KL hanya diadakan satu hari. Sejujurnya saya takut nggak akan bisa nonton Super Junior di konser 20 tahun anniversary ini. Sebagai ELF yang sudah 15 tahun membersamai perjalanan mereka, tentu saya merasa ketar-ketir.
Akhirnya, saya iseng ikut war tiket SS10inBKK pada general sale. Saya minta bantuan teman saya (Mbak Novi) agar berhasil. Tentu saja section yang saya pilih sudah nggak ada. Waktu itu hanya tinggal sisa-sisa. Akhirnya teman saya bisa mengamankan satu tempat. Jujur banget nih, awalnya saya senang banget. Terima kasih banyak, Mbak Novi! Tapi nggak sampai satu menit, saya langsung bingung, hehehe.
Kenapa bingung? Saya sendirian, nggak ada teman. Nonton konser di luar negeri? Gila! Okelah, selama ini saya ke Jakarta sendiri nonton konser Kyuhyun. Saya berani, karena saya bisa bertanya ke kiri dan ke kanan. Banyak yang bisa ditanyai. Tapi tolong, ini negeri orang. Apakah saya bisa? Apalagi English saya nggak bagus-bagus amat.
Kebingungan saya baru saja dimulai.
Namun, nyatanya saya memilih Bangkok juga nggak sekadar iseng belaka sih sebenarnya. Pada bulan Juli 2025 saya sudah pernah ke Bangkok, sedikit banyak saya sudah tahu bagaimana nanti di sana. Saya juga merasa familiar dengan tempatnya. Berbeda apabila saya benar-benar memilih nonton di Kuala Lumpur. Otak saya harus berpikir berkali-kali lipat, karena itu adalah kali pertama buat saya. Nonton konser sendiri, pertama kali, sendirian lagi! Triple combo kan!
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk nonton di Bangkok saja!
Akhirnya ke Bangkok Tidak Sendiri
Pertolongan Allah SWT ternyata selalu muncul pada masa-masa sulit. Saya sudah mengikhlaskan diri untuk travel sendiri ke Bangkok untuk SS10BKK. Saya sudah siap mental. Ternyata apa teman-teman? Ketika kita sudah berpasarah, ternyata Allah SWT menghadirkan teman baik. Sebut saja namanya Kak Vitda. Dia adalah teman baru yang menghubungi saya via whastaap.
Suatu siang, Kak Vitda mengirimi saya pesan. Ternyata Kak Vitda juga mau nonton dan kebetulan mencari teman perjalanan. Alhamdulillah, akhirnya saya punya teman! Tempat tinggal Kak Vitda ini ternyata juga nggak jauh dari kota aku, jadi kami sepakat berangkat bersama.
Namun, karena saya sulit mendapat cuti kerja. Saya juga nggak mau bolos kerja, dengan terpaksa Kak Vitda harus berangkat sendiri. Padahal awalnya kami sudah janji mau berangkat dan pulang bareng. Tapi yaa bagaimana. Kondisi waktu itu sama sekali nggak memungkinkan.
Saya yang tadinya juga mau sekalian jalan-jalan sebentar, memutuskan untuk nggak jadi dan hanya mau melakukan perjalanan pulang pergi alias habis dari bandara langsung ke venue, selesai konser langsung balik ke bandara lagi. Sedih sih sebenarnya, dan agak merasa rugi juga. Tapi mau bagaimana lagi. Kondisi nggak mendukung. Semoga saya ada rejeki, hingga trip saya selanjutnya ke Bangkok nggak sekadar pulang pergi lagi.
Berangkat ke Bangkok Sendiri
Perjalanan akhirnya dimulai.
Jumat siang saya berangkat ke Jakarta menggunakan kereta Progo. Sendiri dong, Nik? Iya, saya berangkat sendiri. Saya bunuh waktu di dalam kereta dengan membaca, nonton video, main hape, dan tidur. Saya turun di Stasiun Jatinegara, lalu lanjut menuju Stasiun Manggarai menggunakan KRL. Beruntung waktu itu sudah pukul 20.40, jadi stasiun agak sepi, pun dengan keretanya.
Sesampainya di Manggarai, saya langsung menuju ke kereta bandara. Kereta bandara saya ini adalah kereta terakhir hari itu. Saya menunggu sekitar satu jam untuk akhirnya bisa naik. Sendiri? Yaa, sepi? Iyaaa. Tapi nggakpapa. Ini adalah pengalaman baru buat saya. Bagaimana cara saya bisa bertahan dan sampai di luar negeri dengan selamat seorang diri.

Pukul 23.00 saya sampai di stasiun kereta bandara di Soekarno Hatta Airport. Kamu tau nggak teman-teman? Rasanya seperti nggak nyata. Malam hari yang harusnya sudah tidur, saya malah berkeliaran kayak orang hilang di bandara. Beruntung saya sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di sini, jadi sedikit banyak agak paham.
Saya naik Sky Train untuk berpindah dari Stasiun Bandara ke Terminal 2 keberangkatan. Tengah malam, saya sibuk cari masjid atau musala dan rencana mau salat dan tidur di sana. Setelah menemukan masjid yang saya maksud, ternyata kok nggak memungkinkan untuk tidur. Akhirnya saya hanya salat lalu pergi mendekat ke gate saya. Padahal, pesawat saya baru berangkat pukul 07.00, Tengah malam saya sudah ada di depan pintu keberangkatan.
Cerita Luar Biasa di Terminal 2
Saya cari tempat duduk strategis, rencananya untuk tidur. Namun, saat masih main hape, saya didekati seorang ibu yang tampak cantik dan stylish. Beliau tampak berumur, tapi berpenampilan trendi layaknya anak muda, sehingga menyamarkan usianya. Kami bercakap-cakap mencoba membunuh waktu. Ternyata beliau juga menunggu jadwal pesawat yang baru akan take off pukul 13.00. Beliau cerita kalau ayahnya sakit di kampung halaman, dan memintanya untuk pulang sejenak. Oh iya, beliau bekerja di Singapura sebagai pengasuh . Di sana kami bertukar cerita. Niki bertukar cerita dengan orang asing. Benar-benar nggak pernah terbayang oleh saya sebelumnya.
Si ibu ini sangat ramah. Di tengah percakapan kami, muncul tiga orang ibu-ibu lain, kalau yang ini tampak berumur. Mereka bertiga menggunakan seragam kerja dari sebuah agen penyaluran tenaga kerja. Si ibu trendi ini pun bercakap dengan mereka. Saya sendiri mencoba memjamkan mata, walaupun nggak benar-benar bisa tidur. Telinga saya sangat awas, dan diam-diam mendengarkan perbincangan mereka.
Ibu-ibu bertiga itu dari agen penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Mereka akan dikirim ke luar negeri menjadi ART di Malaysia. Apa yang membuat saya cukup trenyuh? Ternyata mereka ini baru pertama kali melakukan perjalanan via pesawat, tanpa arahan, dan sendirian tanpa pemandu pada tengah malam. Bahkan saya juga mendengar kalau dua dari mereka masuk angin. Apa yang membuat trenyuh saya lagi? Di bandara, di tengah AC yang dingin itu, si ibu melumuri tubuhnya dengan minyak kayu putih dan kerokan saking peningnya kepala!
Ya Allah, di tengah saya yang menghamburkan uang untuk bersenang-senang nonton konser di Bangkok, saya dipertemukan dengan tiga orang hebat ini. Benak saya langsung terusik. Ketika mereka tanya pada saya yang terbangun dari tidur pura-pura untuk minum, saya cukup tertohok. Mereka nggak begitu paham dengan konser yang saya lakukan esok hari. Mungkin pikir mereka, kenapa kok sebegitunya nonton artis sampai ke luar negeri. Sedangkan mereka tengah malam kebingungan demi mendapat sesuap nasi 🙁
“Sebenarnya saya juga nggak mau kayak gini. Tapi mau bagaimana lagi? Demi keluarga, demi anak yang sekarang masih sekolah.”
Ternyata perjalanan saya sendirian ke Bangkok menghadirkan hikmah yang luar biasa. Kalau saya bersama teman, mungkin saya nggak akan mendapatkan pengalaman seperti ini. Telinga saya nggak akan peka, mata saya nggak akan awas, hati saya nggak akan tersentuh. Semua tentang bersenang-senang akan bertemu dengan idola.
Sesampainya di Don Mueang Airport
Pukul 03.00 saya memutuskan masuk ke gate. Saya mau istirahat di sana saja sampai pukul 07.00. Semoga saja saya bisa tidur sejenak. Eh, ternyata tetap nggak bisa. Karena saya sendiri, sinyal waspada ini terus menyala dalam otak, menolak semua rasa kantuk yang terasa. Saya ngemil, minum, mainan hape. Apa pun yang penting tidak tidur.
Pukul 07.00 saya sudah masuk pesawat. Waktunya untuk tidur. Ya Allah, akhirnya bisa tidur juga. Saya yang biasanya wajib tidur 6 – 8 jam sehari, terpaksa harus tidur di waktu dan tempat terbatas seperti ini. Perjalanan berlangsung kurang lebih tiga jam. Saya tidur, tapi kadang terjaga untuk melihat pemandangan dari jendela. Tetap saya syukuri.
Setelah tiga jam, sampailah saya di Don Mueang Airpott (DMK). Ini pertama kalinya saya mendarat di DMK. Dulu, saya landing di bandara Suvarnabhumi (BKK). Ternyata bandara DMK lebih kecil. Dari parkiran pesawat ke imigrasi pun nggak jauh. Karena lebih sepi, proses imigrasi cepat, nggak pakai banyak tanya juga. Saya pernah dengar ada berita random check. Bersyukur saya nggak kena itu, karena perbekalan saya memang sangat terbatas.

Keluar dari imigrasi, saya awalnya berencana mau tidur di mushala DMK. Tapi hati kecil saya menolak. Saya sudah jauh-jauh ke Bangkok hanya mau tidur? Hahaha! Oke deh, saya jalan-jalan saja di sekitar sini. Saya rencana mau jalan-jalan ke Wat yang letaknya di seberang jalan DMK. Saya sudah ke sana, akan tetapi tampaknya di sana baru ada acara, jadi saya mengurungkan diri untuk masuk, dan hanya menunggu di halte depan Wat.
Solo Traveling
Saya cari tempat wisata dekat sana, tapi nggak ada. Setelah beberapa lama, saya memutuskan untuk ke hotel saja. Walaupun baru pukul 13.00, saya tetap mencoba ke sana, siapa tahu sudah bisa check in. Saya mau mandi dan mungkin bisa istirahat sebentar. Punggung saya sudah sangat sakit, mata rasanya juga sudah lengket, hahaha. Umur memang nggak bisa bohong yaa. Mungkin efek seharian kemarin saya duduk terus.
Sebelum ke hotel, saya mampir ke seven eleven untuk beli makan dan jajan. Oh iya, saya perjalanan ke hotel hanya jalan kaki yaa, mungkin sekitar 20 menit jalan kaki. Sebuah keputusan yang nggak akan saya ambil kalau saya di Indonesia, haha!
Sesampainya di hotel, ternyata belum bisa check in. Saya tanya ke petugas, apakah boleh menunggu di lobby. Untungnya diperbolehkan. Saya duduk di sofa sambil mainan hape. Di dalam hotel rasanya dingin, berbeda dengan di luar yang sangat panas. Karena lelah, ngantuk juga. Akhirnya saya sempat ketiduran di sana. Waktu itu urat malu saya kayaknya udah hilang deh saking capeknya. Mungkin melihat kondisi saya yang cukup mengenaskan, akhirnya saya dibangunkan dan diperbolehkan early check in tanpa biaya tambahan. Yah, waktu itu baru pukul 14.00, padahal check in seharusnya baru bisa pukul 15.00.
Waktu sudah sampai di kamar, saya langsung makan, salat, dan bersih-bersih. Saya juga menunggu Kak Vitda datang. Oh iya, kami sepakat bertemu di hotel, karena Kak Vitda jalan-jalan dulu di daerah Pratunam. Saya nggak berani tidur nyenyak waktu itu, takutnya nanti Kak Vitda telfon saya nggak dengar. Namun, ternyata nggak lama dari itu, Kak Vitda sudah sampai. Kami berbincang, mandi, dan beristirahat sejenak.
Malam Super Show 10 in Bangkok
Kami baru berangkat ke venue pukul 19.00. Kami check out dulu dari hotel dan membawa seluruh barang kami. Oh iya, perjalanan ini kami bersama Kak Honey! Saya suka trip kali ini karena saya dapat teman baru! Kak Honey ini orang Filipina yang juga nonton SS10 di BKK. Kak Honey ramah dan baiknya sama banget kayak Kak Vitda. Alhamdulillah, doaku selama perjalanan untuk ditemukan dengan orang baik dikabulkan Allah SWT.
Kami bertiga berangkat menggunakan bolt. Setelah beberapa kali mencoba nggak dapat driver, akhirnya nyantol juga satu. Di dalam mobil, kami saling cerita keseharian, perjalanan menjadi ELF, dan yang lainnya. Kamu tau? Dari sinilah saya menyadari bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris saya jelek banget! Saya pingin banget ikut ngobrol lebih mendalam, tapi saya nggak bisa. Sayang banget! Karena hal itu, sejak bulan Januari 2026 saya aktif praktik belajar berbicara dalam Bahasa Inggris. Yah, walaupun dalam satu hari hanya lima menit saja. Saya nggak mau pada pertemuan kedua, ketiga, atau kesempatan lain, saya cuma bisa diam.
Kami bertiga membeli section yang berbeda. Sampai di venue kami bergegas menitipkan koper dan menukar tiket. Ternyata kami cukup terlambat sehingga nggak bisa foto-foto di sana. Sebenarnya ini menjadi salah satu penyesalan saya pada trip kali ini. Semua serba buru-buru, dan dibatasi waktu, jadi kami nggak puas. Bahkan saya hanya punya satu potret saya di dalam venue. Foto kami bertiga pun tidak punya. Kurang banget rasanyaaa. Tapi hal itu terobati dengan fancam saya yang lumayan banyak dan bagus-bagus.

Kurang dari lima menit setelah saya duduk di kursi, konser dimulai. Kamu tau nggak sih rasanya? Kayak orang senam, yang belum pemanasan, tapi langsung disuruh melakukan gerakan inti. Apa yang kamu rasakan? Tentu kaget dong! Kayaknya otak saya nih belum siap mencerna. Semua serba cepat dan waktu kayaknya nggak mau menunggu otak saya untuk merespon.
Meskipun begitu, nyatanya empat jam rasanya kayak satu kedipan mata. Cepat banget! Kayaknya baru lagu pertama, kok tiba-tiba encore aja!! Oh iya, Kesan pesan aku konseran di BKK saya taruh bawah yaaa.
Perjalanan Pulang
Di sana kayaknya kami seperti diburu debt collector. Semua serba diburu-buru, karena flight kami pukul 02.00. Konser pukul 23.00 selesai, kami langsung keluar dan cari bolt. Kamu tau? Susaaah banget cari bolt di sana. Apalagi di konser kayak gini. Driver biasa nggak ada yang nyangkut. Akhirnya kami pakai bolt prioritas, baru nyangkut.
Perjalanan nggak lama kok, sekitar tiga puluh menit saja. Drivernya aman, nggak ugal-ugalan. Lancar banget perjalanan pulang kami, seolah-olah semesta membantu kami agar nggak telat sampai ke bandara.
Sesampainya di bandara kami menunggu sekitar satu setengah jam sebelum akhirnya boarding. Such a great experience!
Saya dan Kak Vitda naik Thai Lion pukul 02.00 waktu Thailand. Setelah kami duduk di kursi pesawat, kami langsung tidur. Sayangnya, kami nggak duduk sebelahan. Kak Vitda duduk di kursi depan, sedangkan saya di belakang.
Perjalanan ke Jogja
Pukul 05.30 WIB kami sampai di CGK. Capek? Yah, tentu saja capek, khususnya saya ya. Bayangkan saja! Sejak hari Jumat saya nggak bisa tidur dengan nyaman dan tenang. Kami sampai di Terminal 2 CGK, antre mengambil koper, bersih-bersih sebentar di toilet, lalu menuju ke shuttle bus damri. Kenapa kami memilih damri? Tentu agar lebih mudah transportnya menuju Stasiun Gambir.
Rasanya persinggahan kami di shuttle damri nggak lama. Kami beli tiket, sat set, bus datang, lantas masuk bus dan menuju ke stasiun. Saya sudah nggak ada tenaga buat sekadar ngobrol. Saya cuma mau tidur. Jadilah saya tiga puluh menit perjalanan hanya tidur. Saya sudah bersyukur banget bisa tidur walaupun sebentar.
Sesampainya di Stasiun Gambir, tentu saja tujuan kami adalah makan! Terakhir kami makan adalah Sabtu sore. Tentu perut sudah cukup keroncongan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di Solaria. Tapi bener deh, pikiran saya waktu itu cuma tidur. Saya butuh waktu tidur. Saya yang biasanya punya waktu tidur cukup, tetiba hanya tidur dua sampai tiga jam, itu pun hanya tidur ayam rasanya sangat menyiksa.
Waktu boarding sudah dimulai, saya lantas masuk, letakan barang, dan duduk.
“Kak Vitda, maaf ya nanti aku banyak tidur. Aku kalau tidurnya nggak cukup biasanya mood-nya nggak bagus.”
Saya langsung bilang begitu ke Kak Vitda. Saya sudah perkirakan bakal tidur sepanjang jalannya kereta sampai Jogja soalnya. Maafkan saya ya, Kak. Bagian mood jelek kalau tidur nggak cukup memang nyata adanya. Saya nggak mau merusak suasana 🙁
Perjalanan menuju Jogja menghabiskan waktu sekitar enam sampai tujuh jam. Sesampainya di Jogja, kami berpisah. Kak Vitda lanjut untuk turun di Stasiun Solo Balapan. Terima kasih, Kak Vitda! Semoga di konser selanjutnya kita bisa ngonser bareng lagi yak!
Takeaways from This Trip
Teman-teman, ini menurut saya saja yaa. Kayaknya saya nggak cocok dengan perjalanan pulang-pergi kayak gini, karena capek banget. Usia saya waktu melakukan perjalanan ini baru 29 tahun, tapi lelah dan ngantuknya itu berasa banget. Sepertinya saya harus meluangkan waktu barang satu atau dua hari sebelum atau setelah konser untuk memulihkan energi. Seperti kata salah satu komentar video tik tok saya, bahwa jangankan untuk PCD (Post Concert Syndrom), badan sudah demo minta waktu istirahat tidur yang cukup.
Biasanya, saya selalu sibuk melihat fancam selama perjalanan pulang, tapi kemarin saya full tidur. Bahkan sebenarnya saya nggak enak sama Kak Vitda, sepanjang perjalanan saya tinggal tidur, cuma ngobrol sebentar di sela-sela saya bangun. Semoga konser selanjutnya nggak seperti ini gedebak-gedebuknya. Karena superduper capek. Kamu bisa lihat bagaimana hectic waktu itu lewat video tik tok saya di sini yaa.
Kalau diberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan seperti ini, jawaban saya sudah pasti TIDAK!
Baik, sekian cerita saya yang super panjang ini hanya untuk satu perjalanan tiga hari dua malam yang rasanya seperti mimpi. Kenapa saya kok sebegitunya mendokumentasikan pengalaman saya ini dalam berbagai format? Agar saya nggak lupa, dan suatu hari saya bisa mengenang keputusan gila yang saya buat ini. Saya juga berharap di masa depan, bahwa saya pernah loh bisa sesemangat ini dalam mencari pengalaman hidup baru.
Semoga saya punya kesempatan lain lagi untuk nonton konser Super Junior atau Kyuhyun lagi yaa.
Terima kasih banyak yang sudah berhasil membaca sampai sini. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya!
Baca juga: Review Say Bye – Inggrid Sonya (2023)
