Cara Mengatasi Kesulitan Membedakan Kiri dan Kanan

Cara Mengatasi Kesulitan Membedakan Kiri dan Kanan

“Sandra, aku mau ke rumahmu nanti siang. Boleh minta ancer-ancernya nggak?”
“Oh, ya. Boleh banget. Dari gang Mawar kamu masuk, terus belok kiri, lurus 500 m, belok kanan dikit, terus dipertigaan belok kiri. Rumahku di kanan jalan.”
“Hmm, San, sori, aku nggak paham. Tolong gambarin denahnya aja ya.”
“Asdfghjjkl.”

Sejak masih kecil, ayah bunda yang sudah mengajari buah hatinya pengetahuan tentang arah. Sesederhana meletakan atau mengambil benda, cara berjalan, serta cara makan dan minum. Hal tersebut diperdalam saat masuk sekolah dasar. Saking pentingnya, materi sudah diajarkan sejak kelas satu. Apabila nggak paham tentang arah, sudah dipastikan seseorang akan kesulitan dalam mengarungi hidup.

Banyak yang menganggap pengetahuan ini sangat sederhana dan mudah dipahami. Namun, di luar sana ada loh yang kesulitan membedakan arah. Kesulitan mengetahui arah mata angin menjadi hal yang wajar ketika berada di tempat asing atau tempat yang jarang didatangi. Kita belum mempunyai patokan yang pasti. Entah harus ke masjid untuk tahu arah kiblat, melihat letak matahari, atau yang lainnya.

Selain kesulitan membedakan arah mata angin, ada juga loh orang yang kesulitan membedakan kiri dan kanan. Sesuatu yang dianggap mudah banyak orang, ternyata nggak semudah yang dibayangkan.

Kesulitan Membedakan Kiri dan Kanan

Panggil saja dia Wortel, seorang perempuan yang kesulitan memahami petunjuk bila menggunakan kiri-kanan. Padahal usianya sudah mencapai seperempat abad. Ketika memikirkan kiri dan kanan, tiba-tiba respon otaknya jadi lambat. Berbeda ketika petunjuk yang diberikan adalah utara-selatan-barat-timur, dia bisa cepat menangkap.

Contoh sederhanannya ketika menggunakan Google Maps. Wortel nggak bisa mengikuti arahan dari Om Maps secara langsung. Dia pasti bingung karena Om Maps ini suka sekali bilang belok kanan, belok kiri, dan lainnya. Untuk mengakalinya, ia harus membuka Maps sejak sebelum pergi dan mempelajari dulu jalan yang akan dilalui, serta menghafal tempat strategis yang bisa dijadikan patokan. Setelah yakin dan hafal, Wortel baru berani jalan.

Tak hanya itu, Wortel juga kesulitan dalam menari. Kita semua tahu bahwa menari erat kaitannya dengan menggunakan arah. Dua langkah ke kanan, lompat tiga langkah ke kiri, dan lainnya. Ketika menari, Wortel harus memaksa otak untuk berpikir lima kali lebih keras. Ditambah bila gerakan kaki dan tangan berbeda, dia langsung angkat tangan. Karena itu, dia nggak begitu suka dengan sesuatu yang membutuhkan pemahaman cepat tentang kiri-kanan. 

Alhamdulillah, Wortel nggak pernah ikut paskib waktu sekolah. Kalau ikut, sudah pasti ia akan stress duluan. Ketika masih SD, ia pernah ditunjuk sebagai petugas pengibar bendera. Bisa ditebak dong, banyaknya kekacauan yang dibuat? Seringkali kakinya salah melangkah, yang membuat gurunya mengibarkan bendera putih. Sejak saat itu, dia nggak mau lagi ikut kegiatan baris-berbaris.

Apa Penyebabnya?

Menurut artikel jurnal yang berjudul Difficulty with right–left discrimination: A clinical problem? menunjukan hasil penelitian bahwa pada 800 orang, 9 persen laki-laki dan 17 peremuan mengalami kesulitan menentukan arah kanan atau kiri. Tak hanya itu, penelitian lain yang dilakukan pada 290 mahasiswa kedokteran menyebutkan lebih dari 50 persen orang mendapat skor di bawah 77 dalam right-left psychometric discrimination test.

Berdasarkan tes tersebut dapat kita ketahui bahwa kesulitan membedakan kiri dan kanan ini dialami oleh cukup banyak orang, yang mayoritas adalah perempuan. Fimela.com menjelaskan bahwa kemungkinan penyebabnya dimulai sejak zaman dulu.

Pria bertugas mencari mangsa, sedangkan perempuan tinggal di rumah, mengasuh anak, atau melakukan hal lain. Perempuan lebih multitasking sehingga tidak memiliki patokan di salah satu bagian tangan. Karena itu, membedakan kanan dan kiri cukup menyulitkan mereka.

Sementara itu, penelitian Profesor Furnham menunjukkan bahwa pria memiliki otak yang lebih logis, unggul dalam kecerdasan spasial, sehingga mendukung keterampilan navigasi dan numerik. Beda halnya dengan perempuan yang lebih baik dalam kecerdasan emosional dan bahasa, menguasai kosakata yang lebih tinggi sebelumnya dan menggunakan konstruksi linguistik yang lebih kompleks.

Gerard Gormley, MD dan Ryan Brydges, PhD menguraikan bahwa kesulitan tersebut disebabkan oleh hambatan pada proses neuropsikologis kompleks yang bekerja untuk me-recall kemampuan fungsi lebih tinggi, di antaranya visuopasial, memori, bahasa, integrasi informasi sensori, dan hemishperical serebral yang asimetris.

Cara Mengatasinya

“Bukankah membedakan kiri dan kanan itu mudah? Kalau kamu makan pakai tangan apa? Lalu kalau ceb*k pakai tangan apa? Kan sudah jelas!”

Mungkin kamu akan berkata demikian pada orang-orang seperti Wortel. Namun, sebaiknya jangan seperti itu. Kamu nggak benar-benar tahu tentang situasi yang dihadapi dan dirasakan Wortel. Seperti kata Bu Tejo, mbok empatinya itu dipakai.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan. Misalnya dengan membuat perbedaan pada tangan kiri dan kanan. Kamu bisa menandai salah satunya dengan spidol atau memakai aksesoris yang mencolok seperti cincin, gelang, atau jam tangan. Bisa juga kamu menggunakan cat kuku dengan warna berbeda antara tangan kiri dan kanan.

Apabila kamu dihadapkan pada situasi yang mendesak dan menuntut pemahaman cepat, kamu bisa diam sejenak lantas berpikir. Buat perbedaan dan pola-pola tertentu di dalam benak agar dapat membedakannya. Kamu yang sulit membedakan kanan dan kiri pasti paham dengan maksudnya.

Cara terakhir adalah kamu jujur dengan kondisimu pada orang di sekitar. Mereka menuntut respon cepat bisa jadi disebabkan ketidaktahuan. Yah, walaupun nantinya akan diejek, itu lebih baik daripada memaksakan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi. Berilah penjelasan secara perlahan agar mereka mengerti.

Sulit membedakan kiri dan kanan bukanlah penyakit serius. Namun, hal itu dapat menghambat kegiatan sehari-hari. Bagi kamu yang mendapati temanmu kesulitan membedakan kiri dan kanan, jangan pernah memaksakan.

Paksaan yang dilakukan malah akan mengacaukan pola yang sudah dibuat dengan keras di otaknya. Lebih baik bila langsung menunjuk arah yang diberitahu atau malah menggunakan arah mata angin. Jadilah teman yang baik!

Apakah kamu memiliki kesulitan yang sama seperti Wortel? Boleh banget sharing di kolom komentar.

15 comments found

  1. Aku termasuk si wortel loh, dulu waktu kecil di tangan kiri ada tahi lalatnya jadi aku bisa membedakan kanan-kiri. Pas remaja lama2 si tahi lalat itu mudar dan hilang. Akhirnya sampai sekarang pas ngomong kanan kiri masih suka bingung. Ini bener banget sih, banyak yang bilang aneh gak bisa bedain kanan kiri. Tapi buat gambaran, bagi wortel pas ada yang bilang kanan kiri, rasanya nge blank aja gak tau sebelah mana.

  2. Saya juga susah banget bedain arah..
    bukan hanya kanan kiri, tp utara, selatan, barat, dan timur..
    padahal sering diingatkan, kanan itu tangan buat nulis..
    tp kan saya bisa nulis pake 2″nya..
    soalnya pas kecil, tangan pernah patah..
    jd mau g mau kudu latihan pake 2″nya buat nulis karna patahnya bergantian tangan..
    wkwkkwkw
    jd pas dibilang kanan kiri, jd agak mabok 🙁

  3. Faktor kebiasaan juga menurutku berpengaruh. Waktu tinggal dulu di Bali, semua orang memberikan petunjuk jalan dengan arah mata angin. Lama kelamaan saya jadi terbiasa.

  4. jadilah teman yang baik…..wah ini solusinya. Mereka butuh proses untuk bisa membedakan kanan dan kiri. Teman yang baik akan selalu sabar mendampingi

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: