[Cerita Anak] Pesawat Mimpi

[Cerita Anak] Pesawat Mimpi

Dari balik pohon, Bagas mengintip teman-temannya yang sedang berlatih sepak bola di lapangan. Tidak main-main, yang diperhatikan anak itu adalah kelompok Sekolah Sepak Bola (SSB) yang sangat terkenal di daerahnya. Dibimbing oleh dua orang pelatih, mereka belajar menggiring bola dengan penuh semangat.

“Bagas, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bukan anggota SSB!” tegur Hari dengan galak setelah berlari dari tengah lapangan saat waktu istirahat tiba.

“Aku hanya ingin lihat. Apa tidak boleh?”

“Tentu saja tidak! Yang boleh melihat dan ikut latihan di sini hanya yang sudah mendaftar dan membayar!” kata anak itu dengan begitu sengit. “Sedangkan kamu… bukan anggota klub. Kamu mengganggu latihan kami,” tambahnya dengan sinis dan penuh penekanan.

Bagas pulang dengan wajah muram. Ia bercita-cita menjadi pemain bola yang hebat seperti Lionel Messi. Namun, ibunya tidak memiliki cukup uang, apalagi setelah sang ayah meninggal setahun yang lalu. Ibu yang dulu tidak bekerja, kini harus banting tulang agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Karena itu, dia tak berani untuk mengatakan niatnya dan hanya memendam mimpi itu dalam-dalam.

Baca Juga: [Cernak] Gara-Gara Hujan

***

Esok harinya, kawan-kawan di kelas bercerita tentang pelajaran yang didapat dari SSB. Bagas hanya diam dan mendengarkan. Namun, rasa sedih menyusup dalam hatinya, menumbuhkan rasa minder. Akibatnya, di sekolah ia sering melamun dan sulit bisa konsentrasi pada pelajaran.

“Kamu kenapa, Gas? Kulihat kamu tidak seceria biasanya,” kata Galih, teman sebangkunya.

“Tidak apa-apa, Lih,” jawabnya lesu.

“Jujur saja sama aku. Aku juga ikut sedih melihat kamu murung begitu. Siapa tahu aku bisa membantu.”

Bagas mengembuskan napas lelah. Tidak ada orang yang dapat membantu, kecuali menghidupkan ayahnya lagi dan mengembalikan kehidupannya seperti dulu. Apabila ayah masih hidup, tentu masuk klub SSB bukanlah hal yang sulit.

Bocah itu beralih menonton kawan-kawannya yang tengah bermain sepak bola di halaman sekolah. Mereka tampak riang, berteriak tanpa beban. Ia ingin bergabung, tetapi rasa rendah diri menyelimutinya.

“Kamu ingin masuk ke SSB ya?” Tebak Galih.

Bocah itu terbelalak. “Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Aku sering melihatmu sembunyi di balik pohon dan mengintip anggota klub kami berlatih,” kata Galih sambil tersenyum. “Sekarang pun begitu. Kamu memperhatikan teman-teman yang sedang main bola tanpa berkedip.”

“Kamu benar, Lih. Aku ingin menjadi pemain sepak bola hebat. Akan tetapi, aku tidak bisa masuk ke SSB karena tidak punya uang. Padahal itu satu-satunya cara untuk mewujudkan impianku.”

“Kata ayahku, ada banyak jalan untuk mewujudkan impian kita, Gas. SSB bukan satu-satunya cara. Yang penting kamu harus berlatih dengan keras,” kata Galih lalu menepuk pelan bahu kawannya itu.

“Kamu enak sekali bilang begitu, Lih. Kamu adalah anggota SSB, sedangkan aku bukan!” Sahut Bagas tak setuju.

Galih tersenyum kecil mendapati reaksi temannya itu lalu berkata, “ayahku juga pernah bilang, percuma kalau aku hanya menjadi anggota klub saja, tetapi tidak memiliki niat dan semangat untuk berlatih dengan keras. Kita hanya akan berhasil kalau kita tekun dan rajin.”

Mata Bagas memerah menahan tangis karena tak bisa masuk SSB. Selain itu, ia jadi rindu pada ayah. Andai masih hidup, pasti ayahnya akan memberikan semangat seperti itu, sehingga rasa kecewanya tak sebesar ini. Dadanya benar-benar penuh dengan keinginan untuk menjadi bagian dari sekolah sepak bola itu.

Tiba-tiba Galih menyobek kertas di bukunya, lalu memberikannya pada Bagas. Anak itu menatapnya bingung.

“Kata ayahku, kalau mau cita-citamu terwujud, kamu harus membuat pesawat mimpi. Terbangkan sampai ke langit, agar harapanmu didengar Tuhan,” ucap Galih. “Setelah itu, kita harus berusaha keras untuk mewujudkannya!”

Keduanya lantas menuliskan mimpi masing-masing di kertas itu. Bagas menulis hingga kertas itu hampir penuh. Di bagian sudut, ia beri gambar anak yang menendang bola sepak. Setelah selesai, mereka lalu melipatnya menjadi pesawat dan menerbangkan melalui jendela.

“Ayo, terbangkan tinggi-tinggi, Gas!” Ajak Galih penuh semangat dan disambut anggukan Bagas.

Kedua pesawat kecil itu pun terbang jauh menuju langit, bermanuver melewati pepohonan di samping kelas. Dada Bagas menjadi lebih ringan. Wajahnya kini bisa tersenyum senang.

“Aku punya ide. Bagaimana kalau aku mengajarkan padamu apa saja yang kupelajari selama mengikuti SSB? Kamu mau? Agar kita bisa mewujudkan impian bersama-sama!” tawar Galih dengan mata berbinar. “Kata ayah, kalau bisa mengajarkan pada seseorang apa yang telah dipelajari, artinya aku sudah memahaminya. Kamu belajar, aku juga belajar. Bagaimana?”

Bagas mengangguk mantap. Ia berterima kasih pada Galih yang begitu baik padanya. Belum lima menit pesawat mimpinya terbang, jalan menuju impiannya mulai terbuka. Untuk mendapatkan ilmu dari SSB, ia tidak harus menjadi anggotanya. Apalagi kondisinya yang tidak memungkinkan. Bocah itu bisa belajar dari Galih. Sejak saat itu, ia bertekad akan belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak dapat menjadi pesepakbola yang hebat.

Cerita anak ini telah dimuat di Kedaulatan Rakyat pada hari Jumat, 9 Juli 2021

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: