Seorang bocah bertanya pada gemerlap lampu kota mengapa ibu memilih bergelung dalam hangatnya kelopak bunga? menanggalkan belahan hati dan pekik serapah penikmat cerita Air dalam kolam telah mengering Namun luka
Seorang bocah bertanya pada gemerlap lampu kota mengapa ibu memilih bergelung dalam hangatnya kelopak bunga? menanggalkan belahan hati dan pekik serapah penikmat cerita Air dalam kolam telah mengering Namun luka
Apakah aku salah bila tetap mengharap kepulan asap pada kopi dingin? hangatnya kurindu memeluk sanubari yang terancam mati berselimut beku dan candu Seperti kaki yang bergantian mengayuh impian sampai tujuan
Sore ini, Dita tampak murung. Ia duduk memandangi hujan deras di luar lewat jendela. Anak itu sedih sekali, karena rencana untuk bermain dengan teman-temannya harus batal. “Hujan, kapan kamu reda?
Indah Hanaco kembali menyapa pembacanya lewat sebuah novel bertema cinta. Penulis yang sudah melahirkan 46 buku ini, memadukan tema cinta dengan kondisi psikologis tokohnya yang disebabkan oleh kelamnya masa lalu.
Aroma bensin dan api masih menyengat dari sudut Gang Nakula. Pun dengan hawa panas, akumulasi emosi dari manusia yang bertindak seperti orang paling suci. Saksi bisu kejadian beberapa hari lalu
Kuseduh sejumput kegagalan ke dalam cangkir putih kecil hadiah dari Sang Pemberi Kutambah sesendok semangat kasih sayang, dan harapan Gemulai tangan mengaduk perlahan, searah dengan kesepian yang tertinggal sendiri mencicipi
Pagi ini, Duta tampak bersemangat. Selepas bangun tidur, ia langsung berlari menuju dapur sambil berteriak, “Ibu! Hapenya ditaruh di mana? Aku mau pinjam!” “Buat apa, Ta? Ini masih pagi. Lebih
Kamu adalah buku yang lupa kubelikan selusin pena menggores benakmu dengan kenang hingga berubah menjadi kemerlap kunang terbang bebas, menghunus kelamnya diri dalam kolam sepi Tiga, dua, satu, kamu hitung
Puisi ini kutulis pada bulan Juli Bersama aroma kopi dan secangkir kenangan yang kau pesan melengkapi sekarung rindu dan milyaran angan untuk kembali bersamamu Petik gitar mencipta harmoni dan kusutnya
Masa muda adalah waktu paling menyenangkan untuk bersenang-senang. Apalagi ketika sudah berpenghasilan tetapi masih lajang. Belum ada tanggung jawab untuk menghidupi istri, suami, dan anak. Perasaan untuk memenuhi dan membeli