[Review] Say Hi! – Inggrid Sonya: Tentang Mimpi dan Insecurity

[Review] Say Hi! – Inggrid Sonya: Tentang Mimpi dan Insecurity

Tahun lalu, Inggrid Sonya kembali menerbitkan novel terbarunya yang berjudul Say Hi!. Inggrid Sonya adalah salah satu penulis auto buy atau must buy versi saya. Sebenarnya sejak awal saya sudah penasaran, tetapi karena keadaan dompet yang mengenaskan, saya menunggu novelnya muncul di Gramedia Digital. Namun, sampai awal Juli 2021 tak jua muncul. Akhirnya saya beli novelnya, original, bekas, murah, tapi kondisinya seperti baru.

Sinopsis Say Hi!

“Lagian, gimana mungkin gue bisa suka sama orang yang bahkan nggak bisa suka sama dirinya sendiri?” (hal 86)

Ribby stress! Dia mempunyai dua orang sahabat cowok yang menjadi idola satu sekolah, yaitu Ervan dan Pandu. Ketika mereka bertiga jalan bersama, cewek itu selalu dicengin. Awalnya dia cuek saja, karena sudah biasa. Namun, saat sudah remaja rasa cuek itu berubah menjadi perasaan insecure. Kedua cowok itu ganteng, berprestasi, dan gebetannya banyak. Sedangkan Ribby seorang gadis yang buluk, kumal, berkulit gelap, kurus kering, dan berambut keriting. Terlebih tak ada prestasi yang bisa ia banggakan.

Akhirnya dia dikenalkan oleh Qia, teman sebangkunya pada aplikasi chatting berbasis anonim bernama Say Hi!. Aplikasi ini bisa dibilang mirip tinder, tetapi anonim dan nggak ada batasan minimal usia. Penggunannya pun hanya untuk main-main saja, agar hidup nggak lurus-lurus amat dan terasa lebih berwarna.

Ribby mencoba aplikasi itu dan membuat akun di sana. Viona, nama akun yang ia buat. Ia menggambarkan Viona sebagai seorang mantan model dengan fisik sempurna. Sungguh deskripsi yang sangat berbeda dengan aslinya. Dia sudah sebegitu putus asanya, sehingga ingin juga merasakan menjadi remaja seperti pada umumnya.

Pada hari pertama membuat akun, dia langsung berkenalan dengan seorang cowok bernama Robby. Robby yang humoris, mampu menjadi pendengar yang baik, dan selalu bisa menghibur Ribby saat sedang suntuk atau gundah dengan kehidupan aslinya. Secara tak sadar, cewek itu juga sering meminta pendapat Robby tentang permasalahan yang dialaminya. Mereka menjadi semakin akrab, meskipun hanya bersua lewat aplikasi saja.

Mulai dari sanalah hidup Ribby jungkir balik. Satu demi satu masalah mulai menemuinya, sehingga membuatnya tentang belajar banyak hal.

Review Say Hi! – Inggrid Sonya

“Nggak pernah ada yang salah sama ngebantu orang lain. Dan nggak ada kebaikan yang bodoh.” (hal 44)

Inggrid Sonya tetaplah Inggrid Sonya. Sejauh ini novelnya tak mengecewakan. Gaya berceritanya tetap mengalir, renyah, tetapi liuk alurnya nggak pernah ada yang tahu. Penuh kejutan. Baca ini kayak naik roller coaster emosi. Awalnya ketawa, sedih, ikut kecewa, senang lagi. Inggrid pinter banget lah mengaduk emosi pembaca.

Menilik sinopsisnya yang asyik, saya pikir ini adalah novel remaja biasa dengan konflik yang tak terlalu berat. Yah, walaupun “biasa”, saya tetap percaya bahwa Inggrid akan membawakannya secara berbeda, seperti novel terdahulunya.

Benar saja, setelah membacanya, saya menemukan layer-layer konflik yang dikuliti setelah satu masalah selesai. Alias konfliknya adaaa terus dan bersambung, sehingga membuat novel ini terasa utuh. Say Hi! cukup kelam, tapi tak sekelam Wedding with Converse, Revered Back, atau Tujuh Hari untuk Keshia. Porsi komedi dan suram tokohnya menurut saya cukup dan nggak berlebihan.

Kesan Pertama

 “Kalau tuh cewek udah pede, dia bakal kelihatan cantik dengan caranya sendiri.” (hal 84)

Ah, sebentar, sebelum saya bahas konflik, lebih baik saya ceritakan dulu kesan pertama saya saat melihat sampul dan mulai membacanya. Awalnya saya bingung dengan covernya yang menampilkan satu perempuan dan tiga laki-laki. Sudah pasti itu Ribby, Ervan, Pandu, eh tapi satunya siapa ya? Lama saya baca novel ini, akhirnya terjawab siapa sosok cowok ketiga ini.

Pertama baca, seperti biasa, saya terhibur dengan celetukan karakternya. Dialognya santai, nggak kaku, dan realistis, sesuai dengan umur dan setting yang diambil. Percakapannya selalu diselipi dengan humor receh yang segar, berhasil membuat pembacanya terhibur. Hal ini sepertinya gambaran sosok Inggird ya? Saya bisa membayangkan bahwa penulis ini sosok yang asyik, easy going, supel, dan pembawaannya sangat menyenangkan.

Sayangnya, manisnya masa remaja itu langsung berganti dengan konflik pertama mengenai rasa insecure Ribby. Terlalu cepat? Saya rasa enggak. Cerita justru berjalan semakin seru. Karena rasa insecure itulah yang menjadi titik tolak novel ini berpindah ke konflik-konflik lain.

Meskipun permasalahan yang diangkat banyak dan berlapis-lapis, semuanya dituntaskan oleh Inggrid, sampai tetes terakhir. Bahkan ada sedikit kejutan di akhir ceritanya, yang tentu akan membuat pembacanya tertawa, hahaha.

Menebak Siapa Robby

“Gue percaya setiap orang pasti punya bagian terbaik dalam dirinya. Dan gue yakin lo juga.” (hal 88)

Salah satu yang berkesan setelah menyelesaikan Say Hi! adalah proses menebak siapa itu Robby (teman chattingan Ribby). Rasanya saya seperti menonton Reply series, terutama Reply 1988. Saya pikir Deok Sun akan berakhir dengan Jung Pal, tapi ternyata….

Perasaan serupa, saya rasakan saat menebak si Robby ini. Sebenarnya saya sudah mempunyai satu nama yang berpeluang besar untuk menjadi si Robby. Namun, penulis selalu memberikan sangkalan atas clue yang merujuk ke Robby asli. Tak hanya itu, Inggrid juga agaknya berhasil mengarahkan opini pembaca untuk merujuk ke tokoh lain.

Tokoh tebakan saya ini juga jarang muncul di awal cerita. Bisa jadi pembaca menjadi clueless terhadap karakter yang satu ini. Padahal karakter ini menurut saya sangat menarik untuk dibahas latar belakangnya. Eh, ternyata benar-benar dibahas dong, sampai tuntas.

Akhirnya, sampai pertengahan cerita saya langsung teriak, Saudara-saudara. Ternyata tebakan saya benar, hehehe. Robby memang dia, dengan segala kemisteriusannya dan permasalahan yang selalu complicated.

Mengatasi Insecurity

“Jadi cewek tuh, Bi, harus cantik. Bukan semata-mata buat nyari cowok doang, tapi buat sayangin diri sendiri. Buat ngehargain diri sendiri.” (hal 90)

Akhir-akhir ini, perkara insecurity menjadi permasalahan remaja, bahkan orang dewasa. Isu ini dimasukkan dalam novel sebagai amunisi. Ribby yang insecure dengan berbagai hal yang melekat dalam dirinya; fisiknya nggak sempurna, pun dengan prestasinya yang biasa saja. Agaknya tokoh itu merupakan representasi banyak orang, mungkin saya, bisa jadi kamu juga. Pembaca akan mudah terhubung secara emosi dengan karakter Ribby.

Menurut saya, rasa insecure yang dirasakan Ribby sudah cukup parah. Dia sampai menangis sendiri, menyesali semua yang sudah ditakdirkan untuknya. Sampai-sampai dia rela menjadi “orang lain” demi bisa merasakan hal-hal yang semestinya remaja kebanyakan rasakan. Yah, walaupun hanya lewat aplikasi Say Hi! Hal itu membuktikan bahwa Ribby sudah benar-benar putus asa.

Apa yang menyedihkan? Ribby selalu dicengin oleh teman-temannya. Selama ini dia memang cuek, tetapi pikiran remaja tentu saja berubah. Dia jadi memikirkan ejekan yang katanya “bercanda” itu. Terlebih dia selama ini selalu bersama dengan dua sohibnya yang luar biasa sempurna. Bagaimana bisa Ribby nggak merasa insecure?

Novel ini mengingatkan pada kita semua yang insecure untuk nggak menyerah. Insecure boleh, tapi sewajarnya saja, dan kalau bisa malah membuat kita menjadi lebih baik. Menjadi lebih rajin merawat diri, rajin belajar, rajin berlatih, dan yang lainnya. Ribby adalah contoh bahwa insecure nggak akan membuahkan apa-apa selain rasa sedih dan kecewa kalau kita nggak bisa mengelolanya dengan baik.

Memperjuangkan Mimpi

“Jangan ngerasa tertekan. Buat bikin lo sadar, lo emang harus ditarik paksa. Nggak ada yang salah sama gagal. Yang salah adalah ketika ada kesempatan, tapi lo nggak mau nyoba.” (hal 464)

Saya betul-betul relate dengan segala hal yang dibawa Inggrid dalam novel ini. Kisah Ribby juga menceritakan soal mimpi, di mana nggak ada yang nggak mungkin. Segala hal yang tampaknya mustahil terjadi, kalau kita bekerja keras untuk itu, tentu akan menjadi kenyataan. Bahkan ketika tersandung, kita diajak untuk bangkit kembali, dan berlari lebih cepat.

Seperti yang saya bilang di awal tadi, Ribby bukanlah orang yang percaya diri, tetapi di satu sisi dia ingin berprestasi agar ia layak berada di samping Ervan dan Pandu. Karena itu, dia ikut ekskul taekwondo. Sayangnya, dia belum bisa memanfaatkan dengan baik. Dia masih belum yakin dengan kemampuannya. Dia takut.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk mati-matian latihan taekwondo. Ia meminta tolong Ipank, kakak Qia, untuk melatihnya agar dia bisa berprestasi. Sekeras apa pun latihan yang diberikan Ipank, ia akan terima dan lakukan dengan baik. Meskipun berdarah-darah, ia bertekad akan melakukannya sebaik mungkin.

Penutup

“Kalau gitu kenapa lo harus dengerin apa kata orang? Selagi lo tahu bahwa itu yang terbaik buat lo, jangan penrah mundur cuma karena penilaian satu dua orang yang bahkan nggak tahu hidup lo gimana. Kecuali kalau lo butuh validasi mereka.” (hal 124)

Seperti biasa, saya nggak pernah kecewa dengan novel Inggrid Sonya. Selalu berhasil memadukan humor dengan kelam kisah karakternya. Dalam novel ini malah banyak isu yang disampaikannya, hingga feel–nya sampai pada pembaca.

Satu yang saya suka dari Inggrid adalah dia selalu adil pada tokohnya. Dari awal dia selalu memberikan konflik, konflik, dan konflik pada karakternya, tetapi selalu diakhiri sampai tuntas. Baik itu dengan akhir yang bahagia atau sedih. Yah, walaupun Tujuh Hari untuk Keshia nggak seperti itu, tapi setidaknya novelnya yang lain selalu membuat saya tersenyum puas setelah membacanya.

Meskipun untuk ukuran teenlit novel ini tebaaal banget, tapi saya sendiri nggak masalah. Saya penasaran dengan kelanjutan kisah Ribby, Pandu, Ervan, dan Ipank. Eh, pasti kamu nggak bakal menyangka, bahwa karakter yang awalnya dianggap sebagai tokoh sampingan, justru menjadi salah satu sorotan utama dalam cerita.

Oh iya, sedikit informasi, novel ini sudah ada sequelnya loh. Saat ini masih on going di wattpad, dengan judul Say Bye. Kamu bisa baca di sini. Sequelnya ini menceritakan kisah Qia dan Ervan dengan vibes yang lebih dewasa. Penasaran banget sama kelanjutannya.

Akhirnya saya beri 5 dari 5 bintang untuk novel ini. Sampai jumpa di Say Bye! Kak Inggrid, saya menunggu versi cetak Say Bye ya!

Baca juga: Review Nagra dan Aru – Inggrid Sonya dan Jenny Thalia

Identitas Buku

Judul               : Say Hi!

Penulis             : Inggrid Sonya

Cetakan           : Pertama, 2020

Penerbit           : Elex Media Komputindo

Tebal               : 518 halaman

ISBN                : 978-623-00-1963-0

2 comments found

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: