[Review] Tujuh Hari untuk Keshia – Inggrid Sonya (2020)

[Review] Tujuh Hari untuk Keshia – Inggrid Sonya (2020)

“Puncak dari segala rasa sakit yang benar-benar sakit justru saat kita tidak bisa merasakan apa pun.” (hal 10)

Hubungan tentang orang tua dan anak, jarang dieksplor secara mendalam. Apalagi untuk novel teenlit. Setelah membaca Unspoken Words (Alicia Lidwina, 2018), sekarang saya disuguhkan dengan tema serupa, tapi tidak sama. Bedanya, Alicia Lidwina menghadirkan hubungan ibu dan anak yang sudah dewasa, sedangkan buku yang akan saya bahas ini menyinggung hubungan ayah dan anak yang masih remaja.

Inggrid Sonya, salah satu penulis favorit saya ini kembali hadir dengan novel teenlitnya. Tujuh Hari untuk Keshia. Membaca judulnya, saya sudah menerka-nerka akan bagaimana isinya. Ternyata, dugaan saya sama sekali salah. Saya lupa bahwa penulisnya adalah Inggrid yang seringkali membawakan kisah remaja yang bisanya receh-receh dari sudut pandang berbeda.

Keshia adalah seorang anak berusia 16 tahun yang lahir dari kesalahan. Malangnya, selama ini ia hanya diurus oleh Omanya dan sang mama. Tidak pernah ada sosok ayah dalam kehidupannya. Akan tetapi, takdir mempermainkannya, membuatnya bertemu dengan ayah yang selama ini ia harapkan kehadirannya.

Mamanya, Diana akan menikah lagi dengan seoang pria kaya raya. Sayangnya, Diana tak mau membawa serta Keshia ke dalam rumah tangga barunya. Karena itu, perempuan itu meminta Keshia untuk tinggal bersama ayah kandungnya, Sadewa. Seorang vokalis band tampan, yang tidak punya tujuan hidup.

Mulai saat itulah kehidupan Sadewa dan Keshia dimulai. Tiada hari tanpa keributan yang disebabkan hal-hal sepele, seperti tentang listrik mati, gas yang habis, hingga remot televisi yang selalu hilang entah kemana. Namun, pertengkaran-pertengkaran itulah yang membuat keduanya lama-lama semakin dekat. Tentu saja dengan adakalanya salah satu pihak yang mengalah, mengemong pihak yang lain. Semuanya berjalan lancar, hingga terjadi suatu hal yang membuat Sadewa mengupayakan dengan maksimal kebahagiaan Keshia.

“…gue harap suatu hari nanti, ketika lo bangun lo udah berhenti capek. Berhenti nangis. Berhenti ketakutan. Yang lo tahu saat itu cuma yang indah-indah aja. Karena semua manusia berhak untuk itu, kan? Untuk bahagia?” (hal 204)

Inggrid Sonya berhasil membuat saya jumpalitan. Bayangkan saja, setelah Nagra dan Aru, novel duetnya dengan Jenny Thalia yang membuat saya cekikikan seperti orang gila saat membacanya, kini saya dibuat sesenggukan membaca Tujuh Hari untuk Keshia. Suka sekali saya dengan tema-tema yang diambil penulis, bisa membuka mata saya tentang beberapa hal yang selama ini luput.

Kali ini, tokoh utama yang diusung Inggrid adalah seorang anak yang lahir dari kesalahan (hamil di luar nikah), dan tidak mengenal ayahnya sama sekali. Sejak kecil hanya diurus oleh Oma dan mama, tentu membuat gadis itu memimpikan hangatnya pelukan ayah. Namun, hal itu tak membuatnya lemah. Gadis yang seringkali menjual bolu kukus di kantin sekolah itu justru tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berpikiran dewasa, kuat, teguh, dan ceria. Berbagai cobaan yang terus menerapanya juga tak urung membuatnya mundur.

Gadis cantik itu pada dasarnya seorang penyayang. Sayangnya, dia selalu berbenturan dengan hal-hal yang menyakitkan. Ditinggal mamanya yang nikah lagi, hingga bertemu ayah kandungnya yang sudah 16 tahun tak pernah berjumpa. Situasi seperti itu membuat sifatnya itu coba ditekannya, agar tak nampak lemah dan cengeng. Saya suka sekali dengan karakter sepertinya!

Kisah ini tak akan lengkap tanpa adanya Sadewa, ayah kandung Keshia. Karakternya sangat unik. Dia adalah pria berumur pertengahan 30-an yang kerap dibilang tampan, sekaligus pentolan band Seventy Six. Pria itu masih sendiri, tinggal di sebuah komplek perumahan sederhana. Hal itu tentunya membuatnya bebas melakukan apa saja dan tanpa tanggungan.

Tetiba saja, pagi-pagi muncul Keshia yang disodorkan oleh Diana (mama Keshia) padanya. Satu perubahan itu membuatnya kebingungan. Si pria lajang yang bebas melakukan apa saja, sontak berubah menjadi seorang bapak-bapak dengan seorang anak. Perkembangan karakternya sangat lembut dan natural.

Karakter selanjutnya yang cukup manis di sini adalah River. Kenapa saya bilang manis? Karena dia ini menyukai dan menjaga Keshia dari jauh. River membantu permasalahan gadis itu, tanpa yang dibantu tahu. Ia tetap bersembunyi karena tak mau menyeret Keshia ke dalam hidupnya yang kelam dan rumit. Yah, seluruh karakter dalam novel ini memiliki masalahnya tersendiri, dan tentu saja tidak ringan.

“Jika kematian tidak semenyenangkan yang dia duga, setidaknya kematian membuat semua kekacauan di dunia ini selesai dia hadapi.” (hal 200)

Secara umum, novel ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah proses pendekatan Sadewa dan Keshia, sedangkan bagian kedua adalah rangkaian cerita dari plot twist yang tak pernah saya duga-duga. Yah, selain tentang hubungan orang tua-anak, novel ini juga menyajikan sedikit unsur fantasi di dalamnya. Lebih jelasnya, silakan baca novelnya, karena saya nggak mau spoiler.

Saya suka sekali dengan alur bercerita Inggrid. Meskipun di awal jalannya agak lambat, rasanya sama sekali tidak masalah, karena saya tetap menikmati. Saya malah jadi lebih memahami masing-masing karakter ini dan segala pergolakan batin yang terjadi di antara mereka.

Novel yang mengambil latar di Jakarta ini rasanya sangat sesuai dengan keadaan sekarang. Bahwa fenomena kehamilan di luar nikah memang banyak terjadi. Apabila nasibnya seperti Diana ini, maka pola pengasuhan yang tepat sangat diperlukan, agar anak tidak minder dengan keadaannya. Intinya, kisah Keshia ini sangat merepresentasikan permasalahan zaman sekarang.

Satu hal yang membuat saya cekikikan pada awalnya adalah penggunaan kata “lo-gue” antara Sadewa dan Keshia. Detil itu membuat kisah ini semakin terasa riil. Bahwa, bagaimana bisa dua orang yang sama sekali tidak pernah bertemu, tidak pernah saling kenal, tiba-tiba diminta serumah dan memanggil dengan kata sapaan “Ayah-Nak”? Pasti fase transisi itu ada, dan digambarkan dengan jelas oleh Inggrid dalam novel ini.

Membaca buku ini akan membuat hati kamu hangat, lama kelamaan giliran mata kamu yang hangat, hingga meneteskan air mata. Yah, saya memang lemah dengan buku-buku tema seperti ini. Saat membaca Unspoken Words (Alicia Lidwina, 2018), saya juga merasakan hal serupa.

Buku ini mengingatkan pembaca tentang pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik. Semua orang pernah salah. Ya. Lalu, apakah kamu akan terus mengurai benang kusut kesalahan itu hingga kamu mati? Tentu saja tidak kan? Manfaatkanlah waktu dengan baik, berdamailah dengan masa lalu, perbaiki, dan jadilah pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Karya terbaru Inggrid ini benar-benar menguras emosi. Akhir ceritanya dibuat sangat bijak, dengan bumbu fantasi yang sama sekali tidak membuat saya bingung. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk kamu baca. Agar kamu menghargai waktu, orang tua, dan kesempatan. Saya beri 5 dari bintang untuk novel ini!

Judul                           : Tujuh Hari untuk Keshia

Penulis                         : Inggrid Sonya

Cetakan                       : Pertama, 2019

Penerbit                       : Elex Media Komputindo

Halaman                      : 458 halaman

ISBN                            : 978-602-04-8972-8

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: