[Review] Belok Kiri Langsing – Achi TM (2020)

[Review] Belok Kiri Langsing – Achi TM (2020)

“Makan adalah cara terbaik mengusir kesendirian.” (hal 85)

Gendis Utami, seorang cewek berbadan gempal yang nasibnya apes banget! Dia diputusin oleh pacarnya, Herman yang sudah dipacarinya selama lima tahun, hanya karena dia gendut dan makannya banyak! Padahal, mereka berdua baru saja membayar DP rumah impian. Rasanya seperti dijatuhkan ke tanah setelah diterbangkan tinggi ke langit.

Hal itu tentunya membuat Gendut (sapaan karib Gendis) sangat kecewa. Dia memohon pada Herman untuk memikirkan kembali keputusan itu. Namun, cowok itu tetap teguh dengan keputusannya. Akhirnya, rasa patah hati itu dilampiaskannya dengan makan ayam geprek mozarela di Geprek Couple. Di sanalah cewek itu bertemu dengan Dimas, salah satu pelayan Geprek Couple, yang nantinya akan membantu Gendis menurunkan berat badan.

“Iman sifatnya naik-turun, Gen. Apalagi baru mau hijrah, banyak sekali godaannya. Bukan berarti kita bebas menghakimi orang yang nyakitin kita dengan sebutan munafik atau sebutan apa pun. Kita juga nggak punya hak buat menilai iman seseorang, apalagi menghakiminya.” (hal 88)

Novel pertama Achi TM yang saya baca ini memberi impresi yang bagus. Saya mudah sekali masuk ke dalam cerita. Penyampaian kisahnya juga mulus, mudah dipahami, dan nyaman untuk diikuti. Sudah pasti saya akan membaca karyanya yang lain.

Belok Kiri Langsing. Sebenarnya saya masih belum paham dengan maksudnya. Tapi yang pasti, saya bisa menebak bahwa buku menceritakan tentang seorang yang ingin menurunkan berat badan. Yah, mungkin seputar self love atau self acceptance. Yang menjadi menarik adalah saya menantikan bagaimana penulis meramu tema tersebut menjadi unik dan berbeda dari novel lainnya.

“Cinta memang tak bisa dipaksakan tapi tak pernah ada kebaikan dalam perselingkuhan.” (hal 256)

Tokoh sentral dalam cerita ini adalah Gendis Utami. Gadis berusia 29 tahun itu berbobot 90 kg. Dia adalah wanita periang, supel, cerewet, setia, keras kepala, dan penyayang. Seperti layaknya tokoh yang berbadan gempal lain, si Gendis ini sangat doyan makan. Sekali makan, dia bisa menghabiskan tiga porsi sekaligus!

Karakter Gendis ini cukup… menggemaskan. Dia ini tahu kekurangannya, berkali-kali diingatkan, tetapi tak juga memperbaiki kekurangan tersebut. Banyak sekali yang peduli dengan berat badannya yang berlebih, dan khawatir pada kesehatannya. Yah, karena Herman nggak terlalu mempermasalahkan, dia cuek saja. Tapi ternyata, pacarnya itu memendamnya agar nggak menyakiti hati. Lucunya, justru kegemukannya itu yang menjadi alasannya diputuskan!

Yuk kita sambung ke karakter Herman, pacar Gendis. Cowok berusia 33 tahun ini pada dasarnya adalah seorang yang baik dan pekerja keras. Karirnya naik sedikit demi sedikit, hingga mencapai jabatan manajer produksi. Dia begitu bertanggung jawab, sayang keluarga, dan berpikir visioner.

Namun, sifat itu mendorongnya untuk berpikir realistis. Penulis berhasil meyakinkan saya bahwa tindakan Herman itu benar. Motif semua tindakan cowok itu believeable. Itulah yang menyebabkan tokoh ini agak menyebalkan. Sikapnya yang semau udel sendiri dalam hubungan percintaan dan ketidakjujurannya pada pasangan yang dia anggap jalan terbaik, justru menyakiti pasangannya.

Karakter ketiga adalah Dimas. Tokoh ini dibuat agak misterius oleh penulis sejak awal, bahkan sampai akhir. Tak ada yang tahu latar belakang dan segala hal yang dipikirkannya. Yah, walaupun pembaca tetap bisa menebak dengan mudah (menurut saya). Pria ini begitu loyal pada Gendis, dan membantu cewek itu untuk menurunkan berat badan. Oh iya, dia ini agamis banget dan menjalankan adab dalam Islam. Bisa dibilang tipe pria idaman perempuan lah.

“Lo pikir dengan langsing lo udah aman? Meski kamu langsing, kalau makanmu nggak sehat, buat apa? Banyak penderita diabetes yang langsing, Jul.” (hal 92)

Menurut saya, awalnya alur novel ini agak lambat. Diperlihatkan awal hubungan Herman dan Gendis, cara pacarannya, hingga pada kereganggan hubungan mereka. Diceritakan juga persahabatan Gendis dengan teman-teman kerjanya yang sama-sama sableng. Meskipun begitu temponya masih enak untuk diikuti.

Tensi mulai meninggi ketika Gendis diputus oleh Herman. Konfliknya menurut saya nendang banget. Reaksi masing-masing tokoh begitu realistis. Sahabat, kenalan, semuanya terlibat. Bahkan putusnya mereka bisa membuka pintu perkenalan lebih dalam dengan tokoh lain yang penting untuk menyelesaikan konflik cerita.

“Apa orang dewasa nggak boleh meluapkan amarahnya, Yo? Apakah orang dewasa harus selalu sabar, bijaksana, dan kelihatan kayak dewi yang suci?” (hal 119)

Satu hal yang membuat saya semakin menikmati novel ini adalah diberikannya nuansa religi yang nggak berlebihan. Setelah The Case We Met milik Flazia, akhirnya saya membaca novel dengan setting kota besar yang menceritakan kehidupan tokoh yang sarat dengan syariat islam di dalamnya.

Tokoh-tokoh dalam novel berlatar kota Jakarta ini dikisahkan sedang belajar hijrah. Gendis mulai berhijab, setelah lama ia mengumpulkan niat. Herman yang enggan pacaran-pacaran lagi setelah putus dengan Gendis. Pun Dimas yang begitu memperhatikan adab dalam bersikap. Seluruh syariat itu dimasukan ke dalam cerita, begitu menyatu, hingga saya sendiri nggak merasa digurui.

“Maafkanlah, itu nggak akan membuat nilaimu berkurang di mata siapa-siapa. Allah nggak akan mengajarkan kita buat mendendam atau membenci.” (hal 271)

Pesan yang disampaikan novel ini banyak sekali. Seperti tentang melakukan sesuatu untuk diri sendiri, bukan demi orang lain, apalagi membalaskan dendam. Dalam buku ini kasus yang dibahas adalah diet. Lakukanlah diet untuk kesehatan diri sendiri, karena kita sama-sama tahu bahwa berat badan berlebih akan membuat kerja tubuh menjadi lebih keras. Kesadaran seperti itulah yang harusnya ditanamkan.

Penulis juga mengingatkan pembaca tentang syariat Islam yang kini mulai banyak terlupakan. Tentang adab, cara bersikap, kerja keras, juga tentang jodoh. Buku memperlihatkan pada pembaca betapa Dimas bisa menahan berbagai hal, seperti amarah, kata-kata yang berpotensi menyakitkan hati, hingga nafsu duniawi.

Perihal jodoh pun demikian. Bahwa pacaran lama-lama nggak lantas membuatnya menjadi jodoh kita. Siapa tahu selama ini mereka yang pacaran hanya sedang menjaga jodoh orang lain? Pasti hanya kekecewaan yang didapat, seperti yang Gendis.

“Kematian sudah ditentukan Allah. Namun, Allah menugaskan kita untuk menjaga tubuh kita. Olahraga dan menjaga pola makan adalah ikhtiarnya, tawakalnya tetap kepada Allah.” (hal 213)

Mungkin segitu dulu saja ulasan saya terhadap buku ini. Jujur saya sangat menyukainya. Saya beri 5 dari 5 bintang untuk novel Achi TM ini. Setelah ini, saya akan membaca novelnya yang lain. Selamat membaca!

“Tiap orang diberi peran masing-masing, Gen. Kamu dikasih peran untuk terluka, pasti ada seseorang yang diberi tugas untuk menyembuhkan lukamu.” (hal 271)

Judul                           : Belok Kiri Langsing

Penulis                         : Achi TM

Cetakan                       : Pertama, 2020

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Halaman                      : 336 halaman

ISBN                            : 978-602-06-4072-3

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: