[Review] The Case We Met – Flazia (2020)

[Review] The Case We Met – Flazia (2020)

“Nat, someone said that being a good doctor is like being a goalkeeper. No matter how many goals you’ve saved, people will only remember the one you missed.” (hal 97)

Membaca novel metropop memang tak pernah ada habisnya. Saya suka sekali dengan kisah masyarakat urban yang hidup di kota besar berserta pelik permasalahannya. Tak lupa, cerita romansa tokohnya juga selalu saya tunggu. Membacanya membuat saya memiliki perspektif baru tentang kehidupan ‘di dunia lain’.

Kali ini, saya akan mengulas novel Flazia yang berjudul The Case We Met. Saya belum pernah membaca karya penulis yang pernah kuliah di UGM ini. Namun, saya memang sudah tahu sepak terjang penulis sejak saya masih SMK.

Flazia telah menerbitkan beberapa novel. Banyak di antara karyanya itu berbau Korea. Sejak novel debutnya, saya baru tertarik membaca karya terbarunya yang berjudul The Case We Met. Kenapa? Sederhana, karena covernya unyu banget. Tapi yang saya bikin ganjel itu, nama penulis kok nggak pas di tengah ya? Kayak agak ke kiri sedikit. Eh! Sudahlah! Setelah baca buku ini saya bertekad akan mulai membaca karya Flazia yang lainnya.

Sinopsis

“Allah nggak pernah salah ngasih jodoh ke setiap orang, Dit. Walaupun kebetulan namanya sama, nggak ada istilahnya jodoh ketuker.” (hal 121)

Secara umum, novel ini menceritakan tentang dua dunia yang berbeda, yakni medis dan hukum. Keduanya dihubungkan dengan sangat menarik oleh penulis, lewat sebuah kasus malapraktik. Natanegara Langit (Natan), seorang dokter anestesi dituntut karena ‘dianggap’ melakukan kesalahan (malapraktik) saat operasi yang mengakibatkan pasien meninggal dunia.

Natan meminta tolong pada Rehanda Harris (Rehan) untuk membantunya menyelesaikan kasus itu. Demi menyelamatkan sahabat baiknya itu, Rehan meminta bantuan adiknya, Redita Harris (Dita). Pria itu menganggap Dita sudah berpengalaman menangani kasus malapraktik. Pertarungan di meja hijau pun dimulai dan memunculkan kejutan demi kejutan. Kemudian, kisah mereka hadir di kehidupan di luar pengadilan.

“Because love isn’t something you can arrange, Red. It just happens.” (hal 358)

Mayoritas novel metropop yang saya baca, menceritakan tentang hiruk pikuk perkotaan dengan berbagai macam permasalahannya. Narkoba, klub malam, hedonisme, pergaulan bebas, dan masalah urban yang lain. Namun, metropop ini berbeda. Flazia menyuguhkan metropop dari sisi yang lain. Penulis memberikan sentuhan islami dan baru sekali saya jumpai. Hal ini cukup unik, sehingga menghadirkan nafas berbeda.

Sentuhan religi ini awalnya hanya sedikit-sedikit diberikan oleh Flazia. Saat membacanya, hati saya menjadi hangat. Kemudian saya sadari bahwa hal itu nggak hanya untuk pemanis, tetapi menjadi sebuah prinsip tokoh yang menentukan jalannya cerita. Sangat berbeda bukan, dengan metropop selama ini? Tapi entah kenapa, saya malah suka yang seperti ini.

Alur

“Bagaimana bisa Natan menjadi imam sedangkan agamanya masih begini-begini saja kadarnya?” (hal 293)

Novel dibuka dengan adegan Dita yang tengah berada di Amerika Serikat, menangani kasus Mark Ashton. Dia mengejar saksi kunci yang bisa menjebloskan dokter spesialis ortopedi itu ke dalam penjara. Bagaimana enggak? Pria itu sengaja ‘membunuh’ pasien-pasiennya. Kasus itu tentu membuat geram semua orang. Apalagi, Asthon nggak merasa bersalah sama sekali.

Pada awal cerita alurnya cukup lambat. Penulis menjabarkan berbagai hal dengan sangat detail tentang alasan dia di Amerika, menangani kasus apa, dan bagaimana kasus itu bisa terjadi. Saking detailnya, saya bisa membayangkan keadaan di sana. Minusnya, bila terlalu banyak detail berpotensi membuat pembaca bosan. Yah, ini yang saya rasakan pada halaman awal-awal. Namun, setelah memasuki halaman 20 ke atas, cerita terasa nyaman untuk diikuti. Penulis menjabarkan sedikit demi sedikit teka teki permasalahan tokohnya yang tentu saja membuat penasaran.

Alur maju mundurnya dibuat dengan rapi dan sangat mulus. Untuk satu ini saya mengacungi jempol penulis yang bisa menggiring pembaca untuk terus membaca tanpa mengernyitkan dahi.

Oh iya, novel ini juga banyak menghadirkan istilah medis. Sangat detail malah berbagai istilahnya. Sebagai awam, saya jelas nggak paham itu beneran atau enggak. Namun, sudah pasti ini beneran sih. Kenapa? Karena Flazia ini adalah seorang dokter. Tenang saja, catatan kaki sangat membantu awam seperti saya untuk memahami maksud dari istilah-istilah itu kok.

Karakter

Memangnya Islam macam apa yang mengancam dan membunuh? Orang-orang muslim yang tidak terlalu mendalami agamanya sendirilah yang akan memahami jihad dengan cara yang salah. (hal 72)

Satu hal yang saya sukai adalah karakternya. Ya ampun, loveable banget! Di mana sih saya bisa temui sosok Natan? Berandalan SMA 1 yang sudah tobat dan gedenya jadi dokter! Cakep, cerdas, religius, jago silat, nah, kurang apa lagi coba?

Selain Natan, tokoh sentralnya pun tak kalah menarik. Dita adalah muslimah yang teguh. Si Red Riding Hijab ini cantik, cerdas, berani, mandiri, bisa dibilang dia ini adalah potret perempuan independen. Meskipun begitu, ada satu orang yang membuat nyalinya ciut, yakni Natanegara Langit.

Selain mereka berdua, ada karakter lain, yakni Rehanda Haris (Rehan), Akbar, Taraksa Adam (Adam), Mark Asthon, Ginnie Hwang, Abram, Park Seijin, Pak Haris, Bu Mei, dan karyawan DHP.

Setting

“Aku tahu kita harus mencintai Allah di posisi pertama, tapi bukan berarti kita malah benci sama yang lain demi menyingkirkan mereka dari posisi pertama. Perasaan itu cuma butuh diredam, bukan diubah jadi sebaliknya.” (hal 358)

Novel ini berlatar di Amerika dan Yogyakarta. Meskipun menggunakan latar yang benar-benar nyata, Flazia juga memfiksikan beberapa tempat dalam novel. Sebut saja, Warung Steak A Break, Rumah Sakit dr. Harsono, SMA 1, dan beberapa yang lain. Namun, sepertinya saya bisa menebak-nebak lokasi sesungguhnya, karena saya memang sejak kecil tinggal di Jogja. Selain itu, untuk nama jalan dan daerah, penulis tetap menggunakan nama asli seperti: Gejayan, Seturan Raya, dan Turi.

Amanat

“Bahwa kemarahan adalah bentuk emosi pribadi yang selayaknya dapat ditahan dalam batas-batas tertentu demi mencegah kerusakan lebih lanjut.” (hal 195)

Meskipun novel ini cukup islami, tenang saja, nggak berlebihan kok. Penulis dengan tepat memberikan beberapa pengetahuan tentang Islam di tempat yang tepat. Sebut saja tentang cara bersikap, jodoh, takdir, dan ibadah.

Dita memang enggan bersentuhan dengan pria yang bukan mahram. (hal 141)

“Akhirnya acara resepsi digelar Sabtu pagi agar juga tidak memotong waktu salat. Menikah itu ibadah, jadi jangan sampai pestanya malah membuat ibadah yang utama terlewat.” (hal 370)

 “Nah, pria saleh itu bahkan sangat sadar bahwa dua orang yang bukan mahram tidak seharusnya berduaan di tempat sepi.” (hal 164)

“Harusnya kalau mau kasih nasihat, waktu kalian cuma berdua aja, bukan di tengah-tengah keramaian kayak kemarin. Itu lebih sesuai adab, biar kamu nggak dipermalukan.” (hal 163)

Ada juga pesan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai seorang yang terkenal. Dalam novel ini, Dita adalah seorang selebgram dengan jumlah pengikut yang banyak. Perempuan itu bisa memosisikan dirinya dan menjaga caranya bersikap, agar dapat menjadi contoh yang baik bagi pengikutnya.

“Jumlah pengikutnya memang sudah di atas lima ratus ribu, tapi ketimbang fokus pada ketenaran, Dita ingin menggunakan akunnya sebagai media berdakwah dan berbagi ilmu hukum dasar untuk awam” (hal 136)

Flazia juga menyinggung tentang dunia pernikahan. Tak dapat ditampik bahwa saat ini kita hidup di dunia patriarki. Jelas-jelas penulis ingin menunjukan bahwa perempuan juga harus mampu berdiri di kakinya sendiri. Dunia bukan tentang kuasa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dengannya. Bagi yang akan menikah, prinsip seperti itu harus ditegaskan, agar nantinya nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

Suami harus bisa menguatkan, bukannya malah mendorong istrinya menjadi lemah dan akhirnya menjadi istri tak berdaya yang terus bergantung pada suami (hal 275)

Ini kutipan dan sindiran lain yang saya suka dalam novel ini.

“Kan takut cuma sama Allah, Mas.” (hal 80)

Dia memang tidak bersalah, tapi lihat saja ada berapa orang di dunia ini yang terjebak dalam peradilan sesat dan akhirnya masuk penjara bahwakan ketika mereka tidak melakukan kejahatan apa-apa?” (hal 350)

Intinya, novel ini tak hanya sekadar tebal halamannya saja, tetapi juga berisi. Berisi berbagai petuah kehidupan yang nggak langsung dilemparkan ke muka pembaca. Akan tetapi, dirangkai dalam sebuah cerita manis tentang dunia medis dan hukum yang tentunya bisa membuat hati hangat.

Kekurangan

“Karena kami cuma manusia, Dek. Karena kami bukan Tuhan. Jadi, sekalipun kami udah usaha, kalau memang belum waktunya ya nggak bakal terjadi.” (hal 166)

Meskipun dari tadi banyak menjelaskan kelebihan novel ini, saya juga merasakan bahwa ada yang sedikit kurang. Mungkin sekitar 1/5 bagian akhir novel yang agak kurang nendang. Saya pikir konflik terakhir itu akan dibuat lebih dramatis. Ternyata, begitu aja, hehehe. Bukannya nggak bagus, hanya saja kurang nendang saja untuk jadi akhir cerita. Bisa jadi mengingat halamannya yang mencapai 400++ ya, jadi cepat-cepat harus diakhiri.

Masih berakaitan dengan jumlah halaman, novel ini sepertinya metropop tertebal yang pernah saya baca. Bisa setebal ini karena banyak detail yang ditunjukan serta penjelasan dari beberapa hal yang menyangkut tokoh utama.

Seperti yang saya tulis di atas, bahwa cerita dengan detail itu bagus, tapi kalau kebanyakan akan membuat bosan. Dan ini saya rasakan di awal-awal novel, terlalu banyak detail dan penjelasan tentang ini itu. Untung setelah saya baca lagi, detailnya masih bisa saya terima. Namun, tetap ada beberapa detail cerita yang menurut saya, nggak masalah kalau nggak dicantumkan.

Selain itu, sampai akhir cerita saya masih kurang paham dengan Dita yang memilih menggunakan bus TransJogja. Pertama, karena dia ini adalah pengacara yang tentu saja tingkat mobilitasnya tinggi. Menggunakan bus sepertinya nggak akan efisien, terlepas dari memang dia satu kantor dengan kakaknya. Apalagi menunggu bus itu nggak bisa dibilang sebentar. Yah, mungkin ada detail tentang ini yang saya lewatkan, jadi membuat saya nggak paham.

Akhirnyaaa

“Mungkin Nathan masih terlalu sombong dengan kemampuannya, sehingga lupa bahwa bukan dirinyalah penjamin kehidupan di sini. Sekeras apa pun dia berusaha, ada takdir-takdir yang kehadirannya tidak bisa dia lawan.” (hal 106)

Walaupun begitu, novel ini tetap saya beri 5 dari 5 bintang. Kenapa? Karena saya bisa merasakan betapa karya ini pembuatan karya ini nggak main-main. Riset, pendalaman karakter, dan jalannya alur, patut diacungi jempol. Pesan pada pembaca juga buanyaakkk. Tentunya untuk hal-hal islami yang kini sudah banyak luntur. Yuk, baca! Saya jamin kamu nggak akan menyesal.

“Umar bin Khatab mengatakan bahwa apa yang melewatkan kita tidak akan menjadi takdir kita, dan begitu pula sebaliknya. Apa yang ditakdirkan untuk kita pun tidak akan melewatkan kita.” (hal 293)

Identitas Buku

Judul                           : The Case We Met

Penulis                         : Flazia

Cetakan                       : Pertama, 2020

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Halaman                      : 440 halaman

ISBN                           : 978-602-06-3650-4

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: