[Review] Milenialnomics – Haryo Setyo Wibowo: Ijazah Bukan Penentu Kesuksesan

[Review] Milenialnomics – Haryo Setyo Wibowo: Ijazah Bukan Penentu Kesuksesan

Akhir-akhir ini, milenial yang baru lulus SMA sederajat sedang disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Wajar, karena masuk perguruan tinggi negeri merupakan impian dari sekian banyak anak dan orang tua. Banyak yang beranggapan, bila masuk kampus negeri dapat menjadi salah satu jaminan kesuksesan masa depan. Namun, apakah itu benar?

Buku mengatakan bahwa kesuksesan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat kuliah, apakah bergengsi atau tidak. Kuliah di kampus nomor satu, tetapi tidak pernah berusaha mengembangkan diri, hanya akan sia-sia. Kesuksesan mulai dibangun bukan saat kuliah di salah satu universitas terbaik, pilihan fakultasnya bergengsi, dan ijazah yang akhirnya berhasil diraih. Namun, lebih ditentukan oleh ketekunan dan aktifitas selama di lingkungan tersebut (hal 30).

Buku mengulas berbagai pendapat umum yang selama ini berkembang dengan cara yang berbeda. Seperti uraiannya tentang lulusan baru yang digadang-gadang pemerintah untuk menjadi pengusaha. Penulis tidak 100 persen setuju dengan hal itu. Menjadi pegawai bukanlah sebuah kesalahan. Apalagi menilik sistem pendidikan kita yang cenderung menghasilkan output yang siap bekerja di perusahaan, bukan sebagai pengusaha (hal 37).

Yang terpenting bagi lulusan baru adalah cara mendapatkan pengalaman kerja. Selama ini, banyak lulusan baru yang mengimpikan gaji dua digit pada tahun pertama bekerja, sehingga terlalu memilah pekerjaan yang diinginkan. Padahal, tidak semua lulusan baru memiliki pengalaman kerja yang cukup. Pengalaman yang beragam dan atau spesialisasi sampai kapan pun akan dihargai dengan sangat baik di dunia kerja. Tidak semua hal bisa dimaknai dengan ijazah kalau berbicara tentang kesuksesan (hal 44).

Tak hanya itu, penulis juga membahas seputar ramainya perebutan posisi menjadi PNS. Apakah menjadi PNS akan membuat hidup terjamin? Penulis mengulas jawabannya dalam buku ini. Pun dengan pekerjaan non PNS. Penulis ingin memberitahukan pada milenial bahwa untuk hidup aman, tidak hanya menjadi abdi negara solusinya. Banyak profesi lainnya yang tak kalah menjanjikan. Semua bergantung pada seberapa besar kemampuan dan usaha untuk memperolehnya.

Disampaikan dengan banyak selipan humor, buku ini menjadi semakin menarik, cocok dibaca milenial. Buku ini juga menyampaikan tips mengelola keuangan bagi milenial, baik yang sedang kuliah, maupun yang akan menikah. Dituliskan rincian persentase yang memungkinkan untuk milenial mengatur keuangannya dengan realistis tanpa harus merasa sengsara dan menderita.

Data menunjukan, kemampuan menabung orang Indonesia secara makro berada di posisi 20 besar dunia, jauh menggungguli Finlandia yang tercecer di peringkat 82. Namun, untuk urusan kebahagiaan, Finlandia justru menduduki peringkat 1 dunia, sedangkan Indonesia berada di urutan 96 (hal xii).

Hal itu adalah salah satu temuan yang kontradiktif. Negara ini lebih rajin menabung, tapi memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah. Apa yang menjadi masalah? Buku akan menjawab pertanyaan tersebut. Bahwa kemungkinan saja pola pikir dalam mengelola keuangan selama ini kurang tepat. Karena sejak kecil, kita sudah dikenalkan dengan pepatah hemat pangkal kaya.

Namun, ada beberapa hal yang membuat buku ini kurang nyaman untuk dibaca. Banyak ditemukan penulisan tanda hubung yang tidak pada tempatnya serta kesalahan penulisan. Selebihnya, buku menawarkan cara baru untuk memberikan literasi keuangan bagi milenial. Bahwa membahas tentang cara mengelola keuangan bisa disampaikan dengan santai dan diselipi humor.

Buku juga sangat informatif, tidak hanya membahas masalah ekonomi saja, tetapi juga seputar pola pikir yang harus dibenahi. Salah satunya, mengenai standar kesuksesan yang selama ini identik dengan kemapanan finansial. Buku ini dapat menjadi panduan yang menyenangkan untuk mengelola keuangan, terutama milenial yang belum banyak pengalaman.

Judul                           : Milenialnomics

Penulis                         : Haryo Setyo Wibowo

Cetakan                       : Januari 2019

Penerbit                       : Mojok

Halaman                      : 165 halaman

ISBN                           : 978-602-1318-84-3

Resensi ini sudah dimuat di Koran Kabar Madura pada hari Rabu, 17 Juli 2019

2 comments found

    1. Alhamdulillah, Kak 🙂 Benar sekali, karena di dunia kerja itu justru yang terpenting skill dan kemauan untuk bekerja keras 🙂

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: