Cerita Anak – Harta Karun di Bawah Tanah (2023)

Cerita Anak – Harta Karun di Bawah Tanah (2023)

Cerita anak ini bercerita tentang Hana yang sudah dijanjikan Ayahnya untuk berekreasi ke Malioboro. Akan tetapi, rencana itu sepertinya akan gagal. Lalu, bagaimana dengan rencana mereka? Yuk, temukan jawabannya di bawah!

Harta Karun di Bawah Tanah

Hari sudah mulai petang, tetapi ayah belum juga pulang. Hana menanti kehadiran ayah dengan penuh harap. Setiap menit dia melihat jam dinding yang rasanya berjalan sangat lambat. Tadi pagi, ayah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malioboro. Namun, karena hingga sekarang ayah belum pulang, rencana itu sepertinya akan gagal.

“Ayah kok baru pulang! Pasti kita tidak jadi jalan-jalan,” keluh Hana.

“Maafkan ayah, Nak. Tadi ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi tidak bisa ditinggal,” ayah menjelaskan sambil mengelus rambut anaknya. Akan tetapi, bocah itu tetap cemberut, kecewa karena ayah tidak menepati janji.

“Hmm, bagaimana kalau besok kita ke tempat rahasia? Kita akan melihat harta karun yang ada di bawah tanah dengan pemandangan yang sangat indah,” bujuk ayah. Benar saja, Hana langsung mengangguk antusias.

***

Esok harinya, ayah memompa dan mengelap dua sepeda yang biasa dipakainya olahraga. Hana mengerutkan kening kebingungan. Apakah ayah lupa rencana untuk pergi melihat harta karun?

“Kamu sudah siap, Nak? Ayo kita segera pergi,” kata ayah, “Bunda, ayo cepat kita berangkat!”

Bunda berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa satu tas selempang kecil dan satu tas agak besar yang diletakkan di keranjang. Mereka pun berangkat. Hana membonceng sepeda ayah, sedangkan ibu menaiki sepeda sendiri.

Perjalanan terasa sangat menyenangkan. Kiri dan kanan terbentang sawah yang sangat luas, karena rumah mereka berada di pedesaan. Dilihatnya, embun belum menguap karena matahari juga belum tinggi, membuat udara terasa cukup hangat. Selama perjalanan, ayah selalu menunjuk tempat-tempat yang belum pernah gadis kecil itu ketahui. Bocah kelas tiga sekolah dasar itu sangat antusias dengan cerita ayah, sehingga membuatnya tak bosan selama perjalanan.

Setelah 30 menit bersepeda, mereka sampai ke tempat tujuan. Tempat itu belum begitu ramai. Dari jarak jauh, Hana tak melihat apa pun. Bocah itu berjalan lebih dekat, kemudian dilihatnya tumpukan batu yang mirip candi di bagian tengah. Karena penasaran, ia menarik tangan ayah supaya bergegas masuk.

“Inilah tempat rahasia yang ayah katakan kemarin. Candi Sambisari!” kata ayah setelah memarkirkan sepeda dan membeli tiket seharga 5000 rupiah per orang,

Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Untuk sampai ke sana, mereka harus menuruni anak tangga yang banyak dan cukup curam. Di samping kanan dan kirinya terhampar rerumputan hijau yang sangat indah, membuat Hana tak fokus berjalan hingga hampir terjatuh. Beruntung, ia digandeng oleh ayah.

“Ayah, kenapa candinya ada di bawah tanah?”

“Dulu, candi ini terkubur oleh material letusan Gunung Merapi, hingga menjadi area persawahan. Suatu hari, ada petani yang sedang mencangkul sawahnya. Akan tetapi, cangkulnya mengenai batu. Setelah diperiksa, ternyata ada harta karun yang terkubur di bawah sini.”

“Harta karun? Satu peti emas?”

“Tentu bukan, Nak. Harta karunnya lebih berharga dari pada sepeti emas. Candi Sambisari inilah harta karunnya. Candi ini dibangun pada abad ke sembilan. Proses ekskavasi dan pemugaran hingga menjadi seperti ini butuh waktu 21 tahun, Nak.”

“Kenapa bisa harta karun, Yah? Kalau candi seperti ini, di Prambanan juga ada. Lebih besar pula!” sahut Hana.

“Itu berbeda. Candi ini adalah bukti sejarah negara kita dan menyimpan banyak sekali cerita. Hal itu tidak bisa dibandingkan atau tergantikan dengan yang lain, karena setiap tempat bersejarah memiliki kisahnya masing-masing,” Hana mengangguk takzim mendengarnya.

Sesampainya di bawah, bocah itu melihat sebuah candi induk yang cukup besar, dan tiga candi pendukung di sebelah baratnya. Kompleks candi ini luas sekali. Rasanya dia seperti berada di sebuah kastil dengan taman di sekelilingnya. Mereka bertiga berjalan mengelilingi candi, mulai dari candi yang kecil hingga candi utama.

“Ayah, itu patung apa?” Tanyanya sembari menunjuk patung yang ada di salah satu bilik candi utama.

“Itu adalah arca Lingga dan Yoni. Lingga merupakan perwujudan Dewa Siswa, sedangkan Yoni merupakan perwujudan Sakti, istri Siwa. Arca ini juga melambangkan kemakmuran dan kesuburan, Nak.”

Begitulah Hana, selalu bertanya saat melihat sesuatu yang tak ia ketahui. Ayahnya sukses menjadi pemandu wisata yang berhasil menjawab rasa penasaran gadis cilik itu.

Setelah mengelilingi seluruh kompleks candi Sambisari dan mengambil gambar di beberapa bagian yang menarik, anak itu merasa lelah. Akhirnya mereka beristirahat di gazebo di bagian barat candi. Siapa sangka ternyata bunda membawa bekal jadah tempe, oleh-oleh dari Pakde. Ternyata makan makanan khas Kaliurang itu sambil melihat pemandangan candi Sambisari menyenangkan juga. Tak kalah menarik dibandingkan dengan jalan-jalan di kota.

“Ayah, lain kali kita jalan-jalan ke candi lagi ya. Aku penasaran dengan harta karun lain yang ada di Yogyakarta,” seru Hana antusias sambil menikmati jadah tempe.

“Tentu saja! Kita akan berkeliling Jogja dan melihat harta karun lainnya.”

Hana bersorak gembira. Ia tak sabar menceritakan pengalamannya ini pada teman-temannya.

Baca juga: Cerita Anak – Komandan Jempolan

Cerita anak ini telah dimuat di Majalah Bobo pada tanggal 02 Maret 2023

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: