Review Selamat Tinggal-Tere Liye: Sindiran pada Pembajak

Review Selamat Tinggal-Tere Liye: Sindiran pada Pembajak

“Kalau Pram pantas mendapat penghargaan tinggi, kenapa kamu menjual buku bajakannya?” (hal 13)

Salah satu novel terbaru Tere Liye yang hadir di akhir tahun 2020 ini adalah buah kedongkolan yang sudah bercokol terlalu lama dalam dada. Betapa tidak? Sudah berkali-kali Tere Liye menasihati dan mengedukasi, tapi tak jua menghasilkan sesuatu yang berarti. Buku bajakan tetap beredar luas, bebas, dan gratis, seolah tak menghargai penulis yang bekerja keras.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mencari jalan lain untuk mengedukasi pembacanya mengenai buku repro alias bajakan. Novel Selamat Tinggal inilah hasilnya. Begitu cerdas menembak telak para pembajak di luar sana, dengan sindiran yang begitu tajam. Saya tak pernah membayangkan novel yang berjudul mellow ini berisi banyak amunisi untuk menyadarkan pembaca.

Sinopsis Novel Selamat Tinggal

Novel ini mengisahkan Sintong, seorang mahasiswa abadi yang bekerja sebagai penjaga toko buku bajakan. Dia sudah diambang batas masa studi dan bolak balik bertemu dekan untuk meminta perpanjangan waktu mengerjakan tugas akhir. Enam bulan adalah waktu yang ditetapkan dekan untuk Sintong menyelesaikan skripsinya.

Di sela kesibukannya mengerjakan penelitian, mahasiswa fakultas sastra itu bertemu dengan Jess dan Bunga, mahasiswa ekonomi yang memesona. Berawal dari pertemuan di toko buku bajakannya, Sintong memperpanjang tali pertemanan dengan kedua perempuan cantik itu, lewat konsultasi artikel Jess untuk masuk ke GM (klub menulis di kampus).

Siapa yang sangka proses pengerjaan skripsi sekaligus pertemuan dengan Jess dan Bunga akan membawa Sintong ke sebuah kisah baru yang meneguhkan tekadnya? Dua sisi cerita yang berjalan beriringan itu akan menyatu, menjadi sebuah konklusi menarik dan tak terduga. Kamu nggak akan pernah membayangkan bahwa kita akan digiring “ke sana”.

Review Novel Selamat Tinggal: Setop Beli Barang Bajakan!

Do not judge the book by its cover

Saya ingin menuliskannya sekali lagi, bahwa judul ini sungguh “menipu”. Ketika membeli buku, tentu kita mempertimbangkan judulnya, apakah sesuai dengan kebutuhan atau enggak. Nah, pada kasus ini, Tere Liye kembali “menipu” pembaca. Kenapa? Karena judul yang saya perkirakan isinya mellow ini, ternyata berisi sesuatu yang keras menampar pembacanya. Yah, meskipun nantinya tercerahkan makna judul ini.

Saya pernah merasakan sensasi serupa ketika membaca karya Tere Liye yang lain, yakni Tentang Kamu. Judul dan sinopsis yang menurut saya sangat menye-menye, ternyata menyembunyikan liku-liku kisah hidup seorang Sri. Ternyata itu adalah sebuah novel biografi! Pola ini kembali berulang pada novel Selamat Tinggal.

Namun, Tere Liye, tetaplah penulis yang piawai mengolah cerita. Melalui judul memikat dan sinopsis yang membuat benak menerka-nerka, dia berhasil menarik pembaca untuk membeli bukunya. Isinya juga nggak kaleng-kaleng, khas penulis asal Lahat itu.

Karakter Unik, Alurnya Apik!

Tere Liye menghadirkan karakter yang unik, yakni Sintong. Tak hanya namanya yang terdengar unik, karakternya tak kalah istimewa. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, dia adalah seorang mahasiswa abadi sekaligus penjaga toko buku bajakan. Namun, siapa sangka kalau lelaki itu adalah penulis ulung? Tulisannya yang apik, sudah tersebar di berbagai koran nasional. Kawan-kawannya pun tahu betul bakat Sintong itu.

Karakter yang sangat kontradiktif membuat cerita sangat menarik. Pergolakan batin menjadi bumbu yang menambah daya pikat novel ini. Tak hanya itu, penggambaran tokoh yang lain seperti Jess, Bunga, atau Mawar Terang Bintang juga terasa manusiawi, sehingga terasa sangat relate dengan pembaca.

Menggunakan alur maju, Tere Liye menuliskan kisah Sintong menyelesaikan tugas akhir. Ternyata novel ini menghadirkan sosok tokoh nasional yang jarang diketahui orang, yakni Sutan Pane. Saya suka sekali dengan cara Tere mengaitkan satu dengan hal yang lain, hingga terasa utuh dan padu. Risetnya juga tak main-main, membuat cerita begitu meyakinkan.

Satu hal yang saya tandai adalah, kemunculan setiap tokoh tak ada yang mubazir. Masing-masing memiliki peran yang mendukung cerita, dan begitu merepresentasikan karakter masyarakat masa kini. Tentunya hal itu turut menyentil para pembaca dengan beberapa “kepalsuan” yang sering dilakukan.

Novel Selamat Tinggal: Curahan Hati Para Penulis

Tak dapat ditampik kalau novel ini mewakili keresahan dunia kreatif. Buku, lagu, film, bahkan perangkat lunak, tak luput dibajak oleh oknum demi keuntungan pribadi. Seluruh fakta pembajakan dituangkan ke dalam novel setebal 360 halaman ini. Sebagai pembaca, jujur saya sangat tersentil setelah menamatkannya. Kamu pasti tahu alasannya. 😀

Bahkan di beberapa bagian, diceritakan nasib keluarga penulis di masa depan. Apakah nasib mereka beberapa dekade lagi akan sama?

Selamat Tinggal Buku Bajakan!

Buat para pembaca cerdas, yuk mulai sekarang membaca buku original. Saya sudah pernah menuliskan ciri-ciri buku bajakan di postingan ini, silakan dibaca.

Lagi pula, sekarang banyak opsi platform atau aplikasi untuk membaca buku digital gratis. Apa saja aplikasinya? Kamu bisa membacanya di sini. Kamu bebas download PDF dan membacanya gratis, kapan pun dan di mana pun! Kalau nggak mau mengantre kamu juga bisa membacanya di Gramedia Digital. Di sana, kamu tinggal download PDF-nya, lalu baca deh.

Buat kamu yang masih mencari file PDF novel Selamat Tinggal Tere Liye, segeralah bertaubat. Sudah banyak platform baca buku gratis, jadi manfaatkanlah!

“Sungguh menyedihkan menyaksikan ketika cinta pertama kita ternyata tertolak, kerana orang kita cintai, telah memiliki cinta pertamanya lebih dulu.”

Saya pikir itu saja review kali ini. Saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini! Selamat membaca!

Cover Selamat Tinggal Tere Liye

Judul : Selamat Tinggal

Penulis : Tere Liye

Cetakan : Pertama, 2020

Tebal : 360 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020647821

7 comments found

  1. Hai, Kak, saya baca ini juga dan merasakan hal yang sama, terutama vibesnya yang “Tentang Kamu” banget. Namun porsinya lebih berimbang di Selamat Tinggal ini, antara tokoh utama dengan “tokoh biografi”nya, antara Sintong dan Sutan Pane, lebih dapat feel untuk keduanya. Kalau di Tentang Kamu, saya udah terbius sama kisahnya Sri dan kurang engage dgn kisahnya Zaman sendiri. Review yang bagus Kak!

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: