[Cerma] Secarik Pesan di Jendela

[Cerma] Secarik Pesan di Jendela

Pagi ini aku melihat lagi pesan yang sama tertempel di kaca luar jendela. Secarik kertas warna biru muda berukuran lima kali lima. Si pengirim misterius selalu konsisten dengan pilihan kertasnya. Pun dengan kata-kata penyemangat yang selalu ditulisnya, beserta emotikon senyum sebagai penutup. Tak ada inisial pengirim. Tak ada petunjuk.

Sudah seminggu ini kertas itu selalu tersemat. Saat kutanya ayah, bunda, dan Kak Nadya, tak ada yang tahu asalnya. Teman-teman di sekolah pun mengelak. Bahkan Lingga, sahabatku juga bukan pelakunya. Lagi pula, siapa yang mau repot-repot memberikan kata-kata penyemangat setiap hari? Pasti orang yang rela meluangkan waktunya hanyalah dia yang sangat peduli.

“Dari pada ke rumahmu di pagi buta, aku lebih baik tidur, Tar.”

Begitulah jawaban yang selalu kudapat ketika bertanya pada orang-orang. Otakku semakin keras bekerja, menebak sosok si pengirim. Pasalnya pesan pagi ini tertulis seolah-olah dia mengetahui hal yang sedang kukerjakan. Sesuatu yang kurahasiakan dari siapa pun. Namun, bagaimana cara si misterius tahu?

Aku melihat kembali secarik kertas di tanganku.

Tetap semangat, Taran! Kamu pasti bisa menaklukannya! Aku selalu suka denganmu, yang bekerja dalam diam dan kemudian memberikan kejutan 🙂

***

Hari yang dinanti telah tiba. Pagi ini aku bangun dengan dada yang berdebar dan semangat yang meluap-luap. Akankah ada kabar bahagia atau justru kenyataan yang akan membuatku kecewa?

Lagi, sebuah pesan tertempel di tempat yang sama. Kubuka jendela, lalu mengambil kertas itu. Hatiku menjadi hangat saat membacanya.

Apa pun hasilnya nanti, bagiku kamu tetap pemenangnya. Kamu yang tak pernah takut mencoba dan tak gentar bertemu dengan kata gagal 🙂

Kabar itu akan disampaikan pagi ini pada pukul sepuluh. Menuju waktu tersebut, mood-ku berubah sangat baik. Aku selalu tersenyum dan menyapa setiap orang. Ayah dan bunda sampai kaget melihat tingkahku. Pun dengan Kak Nadya. Dia malah menuduhku sedang jatuh cinta.

Yah, sepertinya Kak Nadya tak sepenuhnya keliru. Tampaknya aku memang sedang jatuh cinta, pada penulis pesan itu. Dia selalu memberikan semangat meskipun dalam diam. Ia tak seperti orang lain yang meremehkan mimpiku. Dia yang tak aku tahu, tapi begitu memahamiku.

“Kamu kenapa sih senyum-senyum melulu dari tadi?” Tanya Lingga yang menghampiriku di taman sekolah saat waktu istirahat pertama tiba.

“Senyum? Aku nggak senyum kok,” kuatur ekspresi agar tak terlalu kentara. “Ngga, doakan ya.”

“Untuk?”

Tanpa menghiraukan Lingga, kuperiksa jam tanganku. Sekarang waktunya. Dengan cepat, aku membuka website penyelenggara lomba. Diam-diam aku mengikuti lomba menulis novel yang diadakan oleh salah satu penerbit mayor. Walaupun terkesan nekat, kurasa percobaan kali ini bukan sekadar iseng belaka.

Aku menulis naskah yang kulombakan dengan penuh tekad. Tak peduli dengan rival yang mungkin adalah para penulis profesional, aku tetap menulis dengan mengeluarkan seluruh kemampuanku. Sebagai remaja yang baru kelas dua SMA, sejujurnya aku tak percaya diri dengan hasilnya. Karena itu, merahasiakannya adalah pilihan yang tepat. Seperti yang ditulis pengirim pesan misterius, aku ingin bekerja dalam diam, dan tetiba memberi kejutan.

Jemariku menggulir laman menuju pos terbaru. Jantungku berdebar. Ibu jari yang sejak tadi tenang, mulai bergetar, membuatku kesulitan menggulir layar.

Muncul nama pemenang serta hadiah yang diperebutkan, jumlahnya enam orang. Namun, tak ada namaku di sana. Kubaca sekali lagi, tetap tak ada. Degup jantungku perlahan menjadi normal. Mataku yang tadinya berbinar, kini menampilkan sorot kecewa. Aku menatap Lingga yang sejak tadi memperhatikanku.

“Ada apa sih, Tar? Tadi sumringah kok sekarang berubah sendu begitu,” Lingga tampak heran.

“Bukan rezekiku, Ngga,” ucapku sambil berkaca-kaca. “Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.”

Lingga yang penasaran, mencoba merebut smartphone-ku, tapi berhasil kutepis. Aku berdiri dan masuk ke kelas dengan lesu. Kusandarkan punggung di bangku, lalu meletakkan kepalaku di atas meja. Riuhnya suasana kelas saat istirahat nyatanya tak membuat pikiranku teralihkan, justru semakin dalam menekuri ketidakberuntunganku kali ini.

Membaca buku untuk riset, menulis, dan begadang yang sudah kulakukan selama satu bulan rasanya sia-sia. Seringkali aku sampai lupa makan, karena sibuk merampungkan naskah. Bahkan tugas sekolah sampai keteteran dibuatnya.

Ting!

Satu pesan teks masuk, dari Lingga. Seketika aku terbelalak saat mendapati kemiripan demi kemiripan yang sama sekali tak kuduga.

Akhirnya kamu berhasil membuktikan bahwa kamu bisa. Selamat! Naskahmu terpilih untuk diterbitkan 🙂

P.S.: Sebaiknya baca pengumuman dengan teliti. Jangan menyimpulkan sendiri.

Kubuka lagi laman tadi dengan terburu-buru. Kubaca dengan cermat pengumuman di sana. Benar, ternyata naskahku menjadi satu dari tiga naskah selain milik pemenang yang akan dicetak. Aku bersyukur hingga mataku mulai basah.

Ting!

Lingga kembali mengirim pesan. Senyumku terbit saat menyadari orang di balik sosok misterius itu.

Benarkan? Sudah kubilang kamu akan membuat kejutan 🙂

Yogyakarta, Oktober 2021

Baca juga: [Cerma] Zona Nyaman

Cerita remaja ini telah dimuat di koran Minggu Pagi pada hari Kamis, 4 November 2021

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: