Empat puluh lima hari Kuberjuang seorang diri Meraba kehidupan Mencari harapan Menemukan cahaya terang Dia, si gadis berambut hitam Hidupnya tak kalah kelam Sorotnya menghalau yang lain untuk tenggelam Menyingkir
Empat puluh lima hari Kuberjuang seorang diri Meraba kehidupan Mencari harapan Menemukan cahaya terang Dia, si gadis berambut hitam Hidupnya tak kalah kelam Sorotnya menghalau yang lain untuk tenggelam Menyingkir
Tersisa meja, kursi, dan sedikit kenangan manis Riuh anak berlari ke sana ke mari bersenda gurau bertengkar, dan menangis di sudut kelas Riuh berubah senyap Penyap, semua lenyap Seperti burung
Semua telah berubah Rambutmu memutih, tubuhmu membungkuk Kau dulu taat, kini dilaknat Dunia semakin gila sepertimu Berteriak di sepanjang jalan kehidupan Aib kau bagi Bersembunyi dibalik harum melati Bahasamu berubah
Aku merindumu saat malam Mencekikku hingga sulit terbenam Mimpi berubah menjadi begitu mencekam Menerjang, menerkamku dengan kejam Hangatnya tubuhmu selalu kunantikan Menenangkan diriku yang tak karuan Tapi kenapa kau tak
Aku tahu Kamu menari dalam diammu Gemulai tanganmu menariku Masuk dalam dunia semu, ciptaanmu Tak henti, tak mati Gerakmu abadi Selaras dengan mimpi malam tadi Rupamu tetap ayu Tak berubah
Keluar dan lihatlah Malam ini, bulan hampir memenuhi dirinya Ia begitu sabar Berjuang menggenapkan diri Hingga purnama pada saatnya nanti Keluar dan lihatlah Malam ini, kau pun menggenapkan dirimu Memasuki
Tetes air asin jatuh di pipi Sakit… sangat sakit kujalani Langkah demi langkahku awalnya mudah Membuat impian itu muncul dan beri harapan lebih Namun… Ketika penolakan menamparku keras Jatuhkanku dari
Surga itu kini tertutup debu Hutannya habis, jadi asap kelabu Ombak pantainya tak lagi menggebu-gebu Pasirnya menghitam, penuh pilu Bisik hujan di sore hari telah hilang Pun hijaunya rumput ilalang
Adakah yang lebih parah Dari menunggu kepastian? Terlunta-lunta dalam ketidaknyamanan Menggerogoti sampai ke tulang Menjadikan semua hal menjadi Keragu-raguan yang menyebalkan Setiap langkah menjadi amarah Setiap lamunan berubah resah Setiap
Diamku mengartikan sejuta rasa yang tak mampu kuungkapkan dengan kata Aku layaknya pohon yang tak berkutik, ketika akan dipangkas yang ketika kemarau, meranggas yang saat ditebas, meninggalkan bekas Satu-satunya tempat