Cangkir di tanganku sudah penuh dengan mimpi-mimpi yang termangu menunggu waktu langit berseru Kutuang sebagian isinya pada selembar kertas putih mencipta kenangan pahit meninggalkan noda hitam melukis samar rasa bahagia
Cangkir di tanganku sudah penuh dengan mimpi-mimpi yang termangu menunggu waktu langit berseru Kutuang sebagian isinya pada selembar kertas putih mencipta kenangan pahit meninggalkan noda hitam melukis samar rasa bahagia
Apakah berada di belakang adalah kesalahan? Mencipta rasa kecil tak berguna Seperti mawar yang mekar Tak ada yang tahu bagaimana waktu telah ditakar Apakah kamu sadar? Waktumu bukan sekarang Tak
Barisan muda mudi di penghujung fajar yang menanggalkan sepi meninggalkan gemuruh langkah seribu yang menggebu-gebu Berarak layaknya awan membumbung di langit kelam Harap yang digenggam diterbangkan, coba menembus pekatnya nurani
Aku melihatnya dari balik pintu Gadis kecil berjilbab biru Menari dalam tatapan kosong Tertawa dalam kesendirian Ditemani daun yang luruh meninggalkan rumahnya Kadang ia menggigil Lebih banyak ia memanggil Tuhan,
Empat puluh lima hari Kuberjuang seorang diri Meraba kehidupan Mencari harapan Menemukan cahaya terang Dia, si gadis berambut hitam Hidupnya tak kalah kelam Sorotnya menghalau yang lain untuk tenggelam Menyingkir
Tersisa meja, kursi, dan sedikit kenangan manis Riuh anak berlari ke sana ke mari bersenda gurau bertengkar, dan menangis di sudut kelas Riuh berubah senyap Penyap, semua lenyap Seperti burung
Semua telah berubah Rambutmu memutih, tubuhmu membungkuk Kau dulu taat, kini dilaknat Dunia semakin gila sepertimu Berteriak di sepanjang jalan kehidupan Aib kau bagi Bersembunyi dibalik harum melati Bahasamu berubah
Aku merindumu saat malam Mencekikku hingga sulit terbenam Mimpi berubah menjadi begitu mencekam Menerjang, menerkamku dengan kejam Hangatnya tubuhmu selalu kunantikan Menenangkan diriku yang tak karuan Tapi kenapa kau tak
Aku tahu Kamu menari dalam diammu Gemulai tanganmu menariku Masuk dalam dunia semu, ciptaanmu Tak henti, tak mati Gerakmu abadi Selaras dengan mimpi malam tadi Rupamu tetap ayu Tak berubah
Keluar dan lihatlah Malam ini, bulan hampir memenuhi dirinya Ia begitu sabar Berjuang menggenapkan diri Hingga purnama pada saatnya nanti Keluar dan lihatlah Malam ini, kau pun menggenapkan dirimu Memasuki