[Review] Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan – Esti Kinasih (2020)

[Review] Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan – Esti Kinasih (2020)

“Kalo jodoh nggak akan ke mana, Ri.”

“Kalo ini kayaknya bakalan ke mana-mana deh.”halaman 46

Rasanya sudah lama sekali sejak karya Esti Kinasih yang terakhir, yakni komik Jingga dan Senja (2018). Setelah dua tahun akhirnya Esti kembali hadir menyapa pembaca setianya melalui novel teenlit terbarunya. Yah, Esti tampaknya masih nyaman untuk menulis kisah lucu, romantis, dan malu-malu kucing anak-anak SMA. Uniknya, setting cerita bukan tahun 2000-an, tetapi sekitar tahun 90-an, loh!

Eits, sebelum lebih jauh lagi, saya mau kasih tahu dulu gambaran umum novel ini. Jadi Roni sekelas sama Rara yang mana sudah ditaksirnya sejak mereka sekelas. Namun, cowok ini nggak gerak cepat, terlalu menghitung peluang jadian mereka. Akhirnya nggak jadi nembak deh. Sialnya, mendadak muncul kakak kelas bernama Rian yang juga suka sama gebetannya itu. Sejak saat itulah kedua orang itu menjadi rival untuk mendapatkan hati Rara.

Meskipun kesannya sederhana, Esti bisa membuat liku-liku perjalanan mereka ini dalam 324 halaman loh! Gaya bercerita dalam novel masih Esti banget, konyol, nyeleneh, dan asyik dinikmati. Pada beberapa bagian saya bisa tertawa membaca sekaligus membayangkan percakapan absurd antartokoh. Menghibur banget!

Apalagi bagian stensilan! Saya awalnya bingung, apa yang dimaksud. Setelah saya baca-baca, oh ternyata itu to. Awalnya saya pikir maksudnya itu buku bajakan!

Selain itu, ada beberapa hal lain dari tahun 90-an yang dibawa Esti ke dalam novelnya. Sebut saja walkman, telepon umum, mobil VW, dan lainnya. Beberapa hal kecil itu sedikit banyak, berhasil membangun nuansa 90-an dalam cerita.

Masa SMA yang Ceria

“Hati kan nggak kayak frekuensi gelombang radio. Tinggal muter tombol tuning, langsung bisa pindah. Pindahnya bisa jauh, lagi. (hal 48)

Saya bisa merasakan atmosfer kelas yang begitu hidup dan menyenangkan. Wajar, saya dulu SMK dan 98 persen muridnya cewek. Jadilah kisah Rara dan kawan-kawan dalam novel ini menjadi sesuatu yang berbeda buat saya. Ada siswa yang sableng, suka berantem, bahkan jenius dalam membuat tipuan-tipuan demi bisa bolos upacara. Nggak ketinggalan, ada juga senior yang sok jago dan berkuasa dan tawuran antar sekolah, menambah lengkap hiruk pikuk SMA Palagan ini.

Mungkin karena sekarang sudah bekerja, saya merasa cukup terhibur dengan kenakalan-kenakalan itu. Saya jadi sedikit mengingat masa sekolah. Terlebih untuk kamu yang melalui masa SMA pada rentang waktu tahun 90-an, tentu akan lebih bisa relate dengan tetek bengek yang disebutkan dalam novel. Rasanya akan seperti nostalgia, mengenang kisah waktu pedekate sama gebetan yang membuat jantung dag dig dug.

Nama Mirip Beda Nasib

Novel ini menghadirkan Rara, Rian, dan Roni. Khas Esti yang seringnya membuat nama tokohnya mirip-mirip, hehe.

Rara si cewek tembem yang ditaksir dua cowok, satu teman sekelasnya, dan satunya lagi kakak kelasnya. Dia ini tipe perempuan yang hatinya lembut dan mudah luluh. Perhatian sedikit saja mampu membolak-balikan perasaannya yang tak menentu. Alhasil dia mudah bimbang dan galau dengan segala yang terjadi padanya.

Roni, cowok yang nggak tegas dan lelet. Dia ini suka sama Rara. Sejak itu, Roni terus menilai peluang dirinya akan diterima. Sayangnya, dia terlalu lama menilai situasi, padahal sikap Rara ini sudah cukup jelas. Roni terlalu banyak berpikir, dan terlambat eksekusi, sehingga tanpa sadar ada satu rival yang menghambat langkahnya menjadikan Rara pacarnya.

Rian, sosok kakak kelas yang konyol, cerdas, dan banyak akal. Dia ini suka sama Rara sejak mereka ketemu waktu mau bayar SPP. Sama seperti Roni, segala macam serangan untuk meluluhkan hati Rara dilakukan. Tentunya dengan cara dan pembawaan yang berbeda, menjurus sangat kreatif.

Entah mengapa kedua karakter cowok ini mengingatkan saya pada Dilan. Pemikirannya agak unik, daya juangnya juga tinggi. Bedanya, keduanya nggak pintar gombal seperti Dilan.

Realistis yang Manis

Entah ini perasaan saya saja atau bagaimana, saya merasa baru bisa masuk ke cerita pada halaman 200-an. Sungguh, rasanya sangat sulit untuk mengikuti cerita sejak awal hingga pertengahan. Alurnya terasa sangat lambat. Terlalu banyak narasi untuk menjelaskan ini itu. Yah, walaupun itu juga penting untuk membangun cerita, tetapi kok jatuhnya malah membuat saya susah untuk lanjut.

Tak ayal kalau saya bisa membaca separuh buku dalam waktu tiga hari. Sungguh waktu yang teramat lama untuk menuntaskan sebuah novel teenlit yang biasanya bisa saya habiskan sekali duduk. Saya baru menikmati membaca mulai halaman 200. Cerita menjadi menarik, hilal mulai terlihat, alurnya mulai jelas. Seluruh adegan menjadi terasa sangat penting untuk menentukan akhir cerita.

Dan yang perlu diketahui, novel ini menceritakan berbagai kejadian dalam rentang waktu dua minggu. Akhir cerita terbuka yang dipilih Esti juga realistis alias nggak maksa. Walaupun saya pribadi agak kurang sreg dengan itu. Rasanya perjuangan saya mengikuti persaingan Rian dan Roni agak sia-sia. Yah, tapi nggak masalah sih, mungkin nantinya akan ada buku kedua.

Siapa Cepat (Belum Tentu) Dapat

Novel ini mengingatkan buat kamu yang masih pendekatan, agar lekas-lekas menyatakan perasaan. Kamu menyatakan saja belum tentu diterima loh. Apalagi kalau nggak menyatakan. Kalau kelamaan, nanti kamu malah keburu punya rival, atau malah ditikung! Makanya, bergegaslah. Bolehlah menilai situasi, tapi jangan kelamaan seperti si Roni.

Esti juga ingin menyampaikan tentang perjuangan yang cerdas dan kreatif. Pun dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Bahwa waktu itu bukan halangan, asal dilakukan dengan maksimal. Buktinya, Rian bisa membuat waktunya begitu berharga. Malah, pada detik-detik terakhir, ia melesat dan meninggalkan rivalnya.

Oh iya, nggak ada kata terlambat. Meskipun kalah start, bukan berarti kamu kalah. Kamu hanya perlu berusaha lebih keras. Tak perlu menyesal, karena itu nggak ada gunanya. Kamu harus langsung berlari, mengejar rival yang sudah mendahului. Yah, kayak Rian dan Roni ini.

Pengobat Kangen

Pada akhirnya, ekspektasi saya ternyata begitu membunuh, hehe. Harapan saya pada buku ini begitu tinggi, karena saya termasuk penggemar tulisan Mbak Esti. Ternyata, magic untuk masuk ke dalam cerita tak jua muncul, pun dengan keterikatan emosi dengan karakternya.

Terlepas dari beberapa salah ketik yang saya temukan, novel yang kurang lebih menceritakan kejadian selama dua minggu ini tetap menghibur kok. Namun, saya titip pesan agar kamu nggak menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada buku ini. Tetap jadikan buku ini pengobat rindu tulisan Mbak Esti.

Yah, tiga dari lima bintang Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan. Buat Mbak Esti Kinasih, saya tetap menunggu buku terakhir tetralogi Jingga dan Senja ya 🙂

Judul : Untuk Dia yang Terlambat Gue Temukan

Penulis : Esti Kinasih

Tebal : 324 halaman

Tahun Terbit : 2020

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: