[Cerpen] Sang Penyelamat

[Cerpen] Sang Penyelamat

“Andra!”

Sandara merengut kesal saat seseorang memanggil namanya seperti itu. Ia berbalik dan mendapati Andre yang memasang tampang menyebalkan sedang melambaikan tangan padanya. Perempuan itu menghentakkan kakinya kesal dan tetap berjalan, tak menghiraukan Andre.

“Aku mau bicara!” Pria itu mempercepat langkahnya dan mencegat Sandara.

“Mulutku sampai berbusa untuk mengingatkanmu memanggilku dengan Sandara, bukan Andra,” ucap Sandara jengah kemudian berbalik.

“Eit, kenapa kamu jadi mudah marah? Aku hanya bercanda,” Andre terkekeh kecil, “aku hanya ingin mengingatkan, hari ini kamu jangan lewat jalan depan toko buku saat pulang ke rumah,” lanjutnya dengan nada yang berubah serius.

Dahi Sandara mengernyit heran. Andre tidak cocok sama sekali bicara dengan nada seserius itu. Selama ini, teman sekelasnya itu terkenal selengean dan cuek. Memang, dia kadang kala mengatakan hal yang aneh dan tidak penting. Selama ini peringatan itu Sandara anggap angin lalu. Toh, ia baik-baik saja hingga hari ini walaupun selalu mengabaikannya.

“Ingat apa yang aku katakan, Dara. Jangan mencoba melanggar apa yang sudah aku katakan.”

Setelah mengatakannya, Andre berbalik pergi. Kepergian pria itu ternyata membawa tanda tanya untuk Sandara. Biasanya Andre akan memastikan hingga ia berjanji akan menuruti himbauannya. Tapi hari ini peringatannya hanya sebatas itu. Firasat aneh menyusup dalam benaknya. Pria itu memang aneh, tapi dirinya sendiri lebih aneh. Setelah lima menit, ia masih berada di tempat tadi menyaksikan sisa jejak Andre dan kemisteriusnya.

***

Sudah sepuluh menit Sandara berdiri di depan sepeda motornya. Sejak tadi ia pikirannya berkecamuk. Ucapan Andre sungguh mengganggunya. Apakah ia harus menaiki motornya untuk pulang atau naik bus? Apalagi sekarang sudah pukul delapan malam.

“Pulanglah tak apa, jangan takut,” Andre tiba-tiba saja muncul di belakang Sandara.

“Bagaimana aku tidak ta… ehem, maksudku, sejak tadi aku memikirkan alasanmu melarangku lewat jalan depan toko buku. Kenapa aku tidak boleh lewat sana? Aku butuh penjelasan.”

“Aku jelaskan pun kamu tak akan bisa mencerna,” jawabnya cuek. Pria itu memakai helm dan mengeluarkan motornya yang terparkir tak jauh dari tempat Sandara.

“Cukup dengarkan apa yang aku katakan tadi. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” lanjutnya lalu menghidupkan motor dan meninggalkan parkiran.

Kini hanya tersisa Sandara yang masih bimbang. Tidak biasanya ia seperti ini. Sandara yang biasanya adalah gadis yang cerdas dan pendiriannya kuat. Entah dengan sihir apa Andre mampu menggoyahkannya. Setelah termenung lebih dari setengah jam, ia memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang Sandara mengendarai motornya dengan perlahan dan sangat hati-hati. Tak jarang ada kendaraan lain yang mengklaksonnya karena ia berkendara terlalu pelan. Seperti yang Andre katakan tadi, kali ini ia tidak melewati jalan depan toko buku seperti biasanya. Ia melewati jalan memutar yang lebih jauh jaraknya. Jalan yang ia lalui pun lebih sepi, karena di kanan dan kiri jalan terbentang persawahan yang luas.

Di tengah jalan yang sepi itu tiba-tiba saja sekelompok pria berbaju hitam menghadangnya di perempatan jalan. Mereka memakai topi yang menutupi seluruh wajah mereka, dan juga sarung tangan hitam. Jantung Sandara sontak berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia takut! Rasanya ia ingin memutar balik kendaraannya, namun tak akan bisa karena jaraknya dengan gerombolan itu hanya sekitar sepuluh meter.

Ia memelankan pacuan motornya, dan berharap mereka akan segera pergi. Namun doanya itu tidak terkabul, mereka malah mendekat dan memaksanya berhenti.

“Turun dari motor sekarang!” Pekik salah seorang dari gerombolan itu.

Dengan patuh, Sandara menghentikan motornya dan turun dari motor kesayangannya.

“Ada apa?” Tanyanya dengan nada santai, menutupi rasa takutnya.

Gerombolan itu tertawa. Kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku.

“Tidak apa-apa gadis kecil. Kami hanya ingin sedikit mengobrol. Sejak tadi pagi kami mencari uang tapi tidak ada yang memberikannya. Dan, untung saja adik kecil ini lewat sini,” kata si pembawa pisau lipat dengan nada manis yang dibuat-buat.

Sandara bergidik ngeri mendengarnya. Dibalik ucapan pria tadi tersirat ancaman yang begitu kental. Kakinya mulai melangkah mudur sedikit demi sedikit.

“Jangan takut adik kecil, kami tidak minta banyak, mungkin hanya… hmm selembar atau dua lembar dari dompetmu,” dia berhenti sejenak, menambah nuansa horor yang semakin pekat, “dan pastinya nyawamu!”

Setelah mengucapkan itu, pisau lipat tadi menusuk dalam di pinggang kiri Sandara. Perempuan itu jatuh, tergeletak di atas tanah yang dingin. Ia menahan sakit yang sangat menyiksanya. Darahnya berlomba keluar dari tubuhnya. Gadis itu tidak bisa apa-apa kecuali melihat tas dan motornya yang mulai diambil paksa oleh gerombolan itu.

Mereka telah pergi membawa segala yang Sandara punya, meninggalkannya yang tengah kesakitan di jalan yang sangat sepi. Dalam sekejap seluruh harta yang dibawa Sandara lenyap. Bahkan nyawanya pun akan lenyap seandainya dalam lima menit tak ada yang membawanya ke rumah sakit.

“Sandara.”

Gadis itu mendongak berusaha melihat orang yang berusaha menggendongnya itu.

“Bertahanlah, aku akan menolongmu.”

Pria itu adalah Andre. Matanya yang berusaha fokus pun melihat Andre dengan raut wajahnya yang sangat cemas. Pria itu membawa Sandara dalam gendongannya sambil berlari menuju klinik terdekat yang dilewatinya tadi.

“Aku telah mengambil keputusan yang tepat,” ucapnya pada dirinya sendiri.

***

Sandara membuka matanya perlahan. Sinar yang begitu menyilaukan matanya membuatnya mengerjapkan matanya. Bau obat-obattan menusuk hidungnya. Menyengat sekali. Perutnya pun rasanya sangat perih.

Andre datang bersama seorang dokter wanita. Ia mempersilahkan dokter untuk memeriksa keadaan Sandara. Gadis itu hanya pasrah diperiksa dokter tanpa banyak bertanya. Tubuhnya masih terasa sakit untuk sekedar membuka mulut saja.

Dokter memberitahukan beberapa hal pada Andre yang hanya dibalas anggukan oleh Andre. Pria itu menatap Sandara dengan tatapan bersalah.

“Maafkan aku,” gumamnya.

Saat ini Sandara ingin memaki Andre sepuasnya. Karena Andre ia mengalami hal ini. Dengan bodohnya ia mengikuti apa yang dikatakan Andre dan membuatnya celaka seperti saat ini. Ingin sekali ia menghajar pria itu hingga mati.

“Aku pikir dengan mengalihkanmu akan menyelamatkanmu, tapi ternyata sama saja. Sekali lagi maafkan aku,” sesal Andre.

“Namun, setidaknya kau tetap dalam jarak pandangku,” sambungnya tak terucap.

“Namun, sekalipun dialihkan takdir tetaplah takdir, tidak akan ada yang merubahnya. Termasuk aku.”

Andre kembali menjadi pria misterius. Ke mana lelaki selengean yang biasanya diterimuinya di kampus? Sandara merasa ada yang aneh dengan ucapan Andre barusan. Ia seakan tau akan takdirnya dan berusaha menyelamatkannya. Apakah ia tau bahwa sebenarnya hari ini ia memang ditakdirkan untuk dirampok?

“Aku berjanji, akan menyelamatkanmu… lain kali,” gumamnya. “Namun jika lain kali itu masih ada.”

***

Setelah sekitar satu bulan menjalani masa pemulihan, Sandara akhirnya telah sehat seperti sedia kala. Dia sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Ia sudah kuat bolak-balik perpustakaan-kelas seperti kebiasaannya dulu. Seperti sekarang, ia tengah berjalan menuju perpustakaan dengan santai.

“Andra!”

Sandara tidak mengacuhkan panggilan itu. Kakinya tetap berjalan menuju perpustakaan seolah tak ada intrupsi apa pun. Namun tiba-tiba saja lajunya dihentikan oleh orang itu. Ia berdiri di depan Sandara menghalangi jalannya. Rasanya adegan seperti ini pernah ia lakoni sebelumnya.

“Ada apa?”

“Aku hanya mau bicara… hm sebaiknya nanti kau… pulang bersamaku saja, aku akan mengantarmu pulang,” ujar Andre gugup.

“Dan membiarkan diriku celaka lagi seperti dulu? Terima kasih!”

Sandara mendorong Andre hingga pria itu menyingkir dari jalannya. Andre hanya memandang kepergian gadis itu dengan sendu. Ia percaya, bahwa takdir akan menentukannya.

***

Sandara mengendarai motornya dengan santai. Sesekali ia mengamati apa yang dilewatinya. Ia ingin membuktikan pada Andre bahwa yang ditakutkan pria itu tidak akan terjadi. Ia akan sampai di rumah dengan selamat. Ia tidak mau hal seperti dulu terulang lagi. Sekali ia menuruti yang dikatakan Andre, dia malah celaka. Seperti kancil, ia tak mau jatuh ke lubang yang sama.

Ia sudah mendekati komplek rumahnya. Rumahnya pun sudah terlihat. Senyum mengembang di bibirnya. Ia menang! Ia akan membuktikan pada Andre bahwa yang dikatakan pria itu salah!

Saat ia membayangkan masa kejayaannya itu, sebuah mobil sport warna merah melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Sandara yang menjalankan motornya dengan hati-hati. Tubuh gadis itu terpental jauh dari motornya, kemudian jatuh di aspal yang panas itu dengan sangat keras. Bunyi gedebuk terdengar begitu menakutkan.

“Argh!” Sandara merintih kesakitan.

Gadis itu melihat sendiri betapa darahnya telah membasahi bajunya dan mengenang di aspal. Untuk memekik takut pun ia sudah tak punya tenaga. Tubuhnya terasa remuk redam, seakan tak bertulang. Gerakan sedikit saja mampu membuatnya sakit tak terkira.

Orang-orang mulai mengerumuni Sandara yang kesadarannya mulai tergerus sedikit demi sedikit. Mereka begitu panik, hingga hanya membiarkan gadis itu tergeletak di sana. Tiba-tiba saja Andre datang. Namun, Andre datang dengan penampilan yang sangat berbeda. Dia memakai baju putih bersih tanpa noda. Wajahnya memancarkan cahaya dan senyumnya menenangkan. Dia membawa sebuah buku yang juga mengeluarkan cahaya menyilaukan.

“Sandara, ini aku, Andre,” sapanya lambat-lambat.

“Maaf tidak bisa menyelamatkanmu kali ini. Selama ini aku telah bermain dengan takdir dan mengabaikan tugasku untuk mengawasimu. Aku banyak melanggar peraturan hanya untuk tetap membuatmu… hidup,” Andre membuka buku yang dipegangnya.

“Kamu akan meninggal satu menit lagi karena gagar otak berat dan juga kehabisan darah. Maafkan aku Sandara. Aku menyayangimu,” ujar Andre sambil menutup bukunya.

Tubuh Andre tiba-tiba saja menghilang terbawa angin yang bertiup lebih kencang dari pada sebelumnya. Menghilangnya Andre, diikuti dengan tubuh Sandara yang bergetar dan seolah nyawanya mulai ditarik kuat lewat kepalanya. Sakit sekali rasanya, hingga ia ingin menangis.

Di detik akhir hidupnya itu, baru Sandara sadar bahwa Andre bukanlah manusia. Dia baru saja mengumumkan waktu kematiannya padanya. Andre adalah malaikat yang bertugas mengawasinya hingga ajalnya menjemput sekaligus penyelamat disetiap takdir kematiannya datang.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: