[Review Film] Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2019)

[Review Film] Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2019)

“Apakah hidup ini adil, Rey?”

Film yang diangkat dari novel populer kini sudah sering kita temui. Salah satunya adalah film yang akan saya review ini. Rembulan Tenggelam di Wajahmu adalah sebuah novel laris karya Tere Liye. Beruntung saya belum membaca buku tersebut, sehingga saat menonton film ini tak ada ekspektasi apa pun.

Sebelum membaca ulasannya, tonton dulu trailernya di sini, biar tambah penasaran, hehehe.

tribunnews.com

Junior hingga Senior

Tokoh utama film ini, yaitu Reyhan, di mana saat belia diperankan oleh Bio One, seorang aktor muda yang kualitas aktingnya patut diacungi jempol. Saat dewasa, peran tersebut dimainkan oleh Arifin Putra.

Jajaran aktor muda bertalenta juga dihadirkan film ini, antara lain Yudha Keling, Ari Ilham, Teuku Rizki, Anya Geraldine, dan lainnya. Sedangkan aktor senior juga terlibat, di antaranya ada Ariyo Wahab, Egi Fedly, Karina Suwandi, dan Donny Alamsyah.

Alur yang Menarik

Film arahan Danial Rifki ini dibagi menjadi beberapa babak yang menceritakan penggalan kisah hidup Rey. Cerita dibuka dengan adegan Reyhan yang sudah tua, mungkin berumur 60 tahunan. Ia terbaring sekarat di rumah sakit. Saat tengah terlelap, muncul sesosok pria misterius yang kemudian saya ketahui adalah orang yang akan menjawab 5 pertanyaan Reyhan tentang hidupnya.

Setting berubah menjadi di sebuah pelabuhan. Reyhan kecil sampai remaja tinggal di sebuah panti asuhan. Di sanalah petualangan hidupnya dimulai. Menjadi pencuri, pejudi, dan segala kenakalan lainnya. Meskipun begitu, dia belajar banyak hal dan yang pasti, carut marut hidupnya bukanlah tanpa makna.

Latar kembali berubah menjadi sebuah kota besar. Ia berkenalan dengan orang-orang baru yang kemudian dianggapnya sosok yang dekat dan penting. Dunianya jungkir balik. Di sinilah saat-saat penting dan menegangkan dimulai, hingga membuatnya menjadi seorang yang berbeda.

Melihat plot cerita yang disuguhkan, saya bisa merasakan nuansa novel Tere Liye yang begitu khas. Pelabuhan dan kota besar. Dua tempat tersebut jarang sekali absen dalam setiap novelnya. Pun dalam film ini. Unsur religi juga ditampilkan sedikit-sedikit dalam film.

Pada awal film, saya merasa cukup bosan. Mungkin karena tone warna masa lalu (saya nggak tahu bahasa yang tepat apa) yang pekat nuansa oranye dan coklatnya. Selain itu, ceritanya juga berjalan agak lambat dengan konflik yang nggak terlalu berat.

Rasa bosan itu hilang selepas meninggalkan babak pelabuhan. Cerita menjadi semakin seru dan kejutan-kejutan dimulai. Bahkan saya nggak bisa menebak akan dibawa ke mana kisah Reyhan ini.

Perpindahan dari satu babak ke babak lain menurut saya cukup mulus dan proporsi bagian yang cukup seimbang. Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang terasa agak drama dan membuat saya sedikit mengerutkan dahi.

Akting Jenius dan Komedi Jayus

Satu hal yang harus saya acungi jempol dari film ini adalah akting Bio One yang ciamik. Dia sukses memerankan karakter Rey dengan cukup sempurna. Yang mencuri perhatian adalah adegan action yang bolak balik ia lakoni. Akting berantemnya tampak sangat nyata. Ekspresinya pun selaras dengan dialog atau adegan yang tengah dilakukannya.

Film juga sukses memberikan perbedaan yang cukup mencolok antara masa kini dan masa lalu. Tampilan gambar yang futuristik begitu meyakinkan penonton bahwa hal tersebut terjadi di masa depan.

Meskipun begitu, menurut saya film agak gagal menampilkan sisi komedi yang coba dihadirkan melalui Yudha Keling. Bukannya ketawa, saya malah iba melihat si Yudha, hehehe. Bercanda ding. Akan tetapi memang begitu kenyataannya. Premis film ini agaknya terlampau serius untuk dibercandai.

Kejutan

Untuk kamu yang sudah menonton ini, pasti akan mendapat kejutan di akhir, bahwa film ini nggak langsung tamat alias ada bagian keduanya. Bagian pertama ini hanya menjawab tiga dari lima pertanyaan Rey. Dua pertanyaan tersisa akan dijawab pada film selanjutnya. Sedih? Entahlah, tapi saya penasaran.

Buat kamu yang mengidolakan Anya Geraldine tampaknya harus menelan pil kekecewaan ya, karena di film ini dia hanya muncul sebentar di penghujung cerita. Namun, kalau kamu penasaran dengan Anya, bisa banget nonton bagian kedua yang entah akan tayang kapan. Pastinya, pada part tersebut, perempuan itu akan mendapatkan porsi yang cukup banyak.

Mungkin sekian review film ini dari sudut pandang saya yang masih amatir. Film ini patut kamu tonton. Selain menghibur, banyak sekali pesan yang disampaikan. Yah, khas bukunya Tere Liye ya. Kamu akan tersentuh mendengarnya, karena saya begitu, hehehe.

Menurut saya, selain membuka dengan menarik, sebuah film atau buku sebaiknya ditutup dengan ciamik. Walaupun film ini hanya melakukan salah satunya, tapi kisahnya sangat membekas. Karena cukup relate dengan yang tengah saya rasakan.

Buat kamu yang penasaran dengan kisah Rey, bisa banget nonton di berbagai platform streaming film kesayanganmu. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya!

“Namun, waktu dari yang Maha Segala selalu tepat, Rey.”

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: