5 Cara Sederhana Mengapresiasi Anak

5 Cara Sederhana Mengapresiasi Anak

“Uti, lihat ini! Ipin sudah bisa menggambar jelapah. Bagus kan, Uti?” Ipin yang berumur 3 tahun memamerkan karyanya dengan senyum lebar.

“Yang ini kepalanya jelapah. Terus yang ini kakinya. Kalau yang itu ekornya, Ti,” tambahnya dengan penuh antusias.

Uti meraih gambar cucunya itu lalu berkata, “gambar kepala tidak seperti ini, Dik. Sini Uti gambarkan. Harusnya begini, begini, begini.”     

Senyum Ipin memudar, lantas memperhatikan neneknya menggambar.

Tanpa disadari, orang dewasa seringkali meremehkan pencapaian belajar anak. Sebut saja ketika ada anak yang menunjukan hasil gambarnya pada orang dewasa, tetapi malah ditertawakan atau justru menganggap hal itu biasa. Parahnya, yang dilakukan justru mengkritiknya dengan cara yang kurang baik, sehingga tanpa sadar akan berpengaruh pada rasa percaya diri anak.

Manfaat Apresiasi

Salah satu artikel yang diunggah oleh Australian Parenting Website, menyebutkan: “No matter how old your children are, your praise and encouragement will help them to feel good about themselves. This boosts their self-esteem and confidence.” Hal tersebut menunjukan bahwa memberikan pujian dan dorongan adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan karena akan meningkatkan kepercayaan diri anak.

Hal tersebut serupa dengan artikel di berkeluarga.id yang mengatakan bahwa manfaat memberikan apresiasi pada anak adalah meningkatkan kreatifitas, motivasi, kemandirian, terhindar dari stress, membangun hubungan baik anak dan orang tua.

Cara Mengapresiasi

Berikanlah pujian dengan tulus

Meskipun kedengarannya mudah, memberikan apresiasi memiliki kesulitannya tersendiri loh. Hal utama yang harus dilakukan saat melakukannya adalah ketulusan. Berikanlah pujian penuh ketulusan, bukan sekadar kata tanpa makna dan rasa. Sesuatu yang datangnya dari hati, tentunya akan lebih mudah diterima daripada sekadar bicara saja.

Berikanlah pujian secara spesifik

Menurut sekolahmenyenangkan.org pujilah usaha anak dalam melakukan sesuatu, bukan hasil akhirnya saja, apalagi hanya menekankan sifat atribut anak, misalnya pintar, hebat, atau cerdas.

Apabila anak berhasil menciptakan sesuatu, pujilah bahwa ia telah bekerja dengan sangat baik, sehingga dapat menghasilkan karya yang baik pula. Bukan semata-mata hanya memberikan kata ‘bagus’ atau ‘pintar’ pada setiap pencapaiannya. Pernyataan “usaha kamu sudah bagus” atau “kamu sudah berusaha dengan baik” lebih disarankan daripada berkata “kamu pintar.”

Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Profesor Kang Lee yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science, bahwa memuji secara berlebihan dapat berisiko membuat anak melakukan hal curang. Studi ini mengungkapkan bahwa anak yang menerima pujian karena sangat pintar lebih mungkin untuk menipu atau melakukan kecurangan.

Sebaliknya anak-anak yang menerima pujian karena mereka telah melakukan sebuah usaha yang sangat baik atau tidak mendapat pujian karena kepintarannya justru kecil kemungkinannya untuk melakukan kecurangan.

Penelitian tersebut menunjukan bahwa pujian yang tidak tepat berisiko merusak motivasi mereka untuk berprestasi lebih baik lagi karena usaha dan kinerja yang mereka lakukan justru tidak diperhatikan. Yang lebih parah, secara perlahan hal itu akan membentuk karakter anak menjadi tidak jujur dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pujian serupa.

Jangan membandingkan satu anak dengan anak lainnya

Bandingkanlah pencapaian anak sekarang dengan pencapaiannya yang sebelumnya. Harapannya dia akan sadar bahwa dengan terus belajar dan berusaha dia akan berkembang dan menunjukan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Berikan apresiasi dengan sentuhan

Anak pasti akan senang ketika orang dewasa melakukan gerakan seperti memeluk, tos, atau mengacungkan jempol sebagai tanda bahwa perbuatan baiknya dihargai. Hal tersebut sesuai dengan nukilan artikel di cantik.tempo.co yang menyebutkan bahwa anak lebih memilih untuk diperhatikan dan dicintai melalui pelukan, belaian, dan kontak fisik lainnya.

Apresiasi kegagalan anak

Satu hal yang paling penting, jangan hanya memberikan apresiasi ketika anak melakukan pencapaian, tetapi juga ketika melakukan kegagalan. Hal itu akan menunjukan bahwa kita menghargai usaha anak, sekaligus dapat memberikan dorongan agar anak terus mencoba dan belajar dari kesalahannya.

Terkadang, kegagalan membuat anak menjadi rendah diri dan enggan untuk mencoba lagi. Pada saat itulah peran orang dewasa dibutuhkan, untuk terus menyemangati dengan memberikan apresiasi. Berikanlah cerita inspiratif dari tokoh yang telah mengalami kegagalan, tapi tetap bangkit lagi. Harapannya, anak akan termotivasi untuk mencoba lagi.

Yang Harus Diperhatikan

Memberikan pujian memang penting dilakukan. Akan tetapi, apabila penyampaiannya kurang tepat, justru akan berdampak buruk bagi anak. Oleh karena itu, orang dewasa harus berhati-hati ketika akan mengapresiasi anak. Alih-alih memotivasi, siapa yang tahu pujian kita justru membuat anak semakin depresi?

Yuk, mulai sekarang perhatikanlah cara kita mengapreasiasi anak!

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: