Diari Anak Pertama (Bagian 1)

Diari Anak Pertama (Bagian 1)

twitter.com/angewwie

Apakah kamu adalah sulung di keluarga? Bagaimana rasanya? Semoga tetap menjadi kuat ya 🙂

Kata orang menjadi sulung itu berat, artinya kamu adalah satu dari banyak orang pilihan yang punya jiwa kuat. Sejak kecil diberi tanggung jawab lebih oleh orang tua. Bahkan hingga sekarang sudah dewasa, ekspektasi ayah ibu padamu masih juga sama, tinggi.  

Masa Kecil yang Indah

Mari kita kembali ke memori masa kecil yang mungkin akan membuat hatimu hangat. Ingatkah kamu ketika ayah ibumu tertawa ketika melihat tingkah lucumu saat masih kecil? Atau ketika kamu sekeluarga piknik ke kebun binatang? Lihatlah bahagianya mereka saat itu, karena memilikimu dan mendapati senyumanmu.

Saat itu, kamulah satu-satunya yang mereka miliki. Adikmu belum lahir. Tak ayal bila curahan kasih sayang mereka hanya untukmu. Kamu adalah fokus utama mereka. Tak ada yang lebih penting dari kebahagiaanmu. Tumbuh kembangmu yang dari ke hari selalu menakjubkan membuat hati mereka hangat dan terus bersemangat untuk membahagiakanmu.

Belajar Tanggung Jawab

Setelah adikmu lahir, kamu harus mulai beradaptasi dengan hal baru. Misalnya, tentang fokus orang tua yang mulai terbelah dan tanggung jawab yang mulai diajarkan padamu. Tentu kamu tak begitu saja berleha-leha saat adikmu lahir. Kamu harus membantu mengurus adik saat ayah ibu sedang sibuk. Kamu berlajar menjadi dewasa, sebelum waktunya.

“Jadilah contoh yang baik untuk adikmu.”

Kalimat itu kemungkinan dikatakan orang tua pada sulung. Anak pertama harus memberikan contoh yang baik, karena seorang adik pasti akan meniru apa pun yang dilakukan kakaknya. Tanpa sadar, hal itu menciptakan standar tersendiri bagimu. Semangatmu menjadi tersulut untuk selalu menjadi yang terbaik. Tanpa sadar juga, itu membuatmu memiliki beban tersendiri, yang kamu sendiri tak mampu memahami.

Selalu Mengalah

“Kamu mengalah ya, Kak. Kasihan adik sampai nangis begitu. Kamu kan seorang kakak.”

Pasti dalam hati kamu ingin sekali menjawab, “lantas mengapa kalau aku adalah kakak? Apakah itu alasan bahwa aku harus terus mengalah? Aku juga nggak minta dilahirkan sebagai kakak!”

Kamu pasti sering merasa bahwa dirimu dinomorduakan. Padahal sejatinya, kamu yang lahir duluan. Sulung dianggap lebih memahami sikap orang tua, sehingga diminta untuk selalu mengalah, mengalah, dan mengalah. Kamu sama sekali tak masalah untuk mengalah, karena sadar bahwa ayah ibu membutuhkan kerjasamamu untuk memahami keadaan.

Namun, seringnya pemakluman itu membuat ayah ibu terus-terusan meminta hal serupa.

“Aku adalah anak yang juga memiliki keinginan sendiri!” Ingin rasanya kamu berteriak demikian. Akan tetapi, ditahan agar tak memberikan contoh buruk pada adikmu.

Menjadi Kuat

Hal-hal di atas kemudian membuatmu menjadi pribadi yang kuat dan pekerja keras. Beban di pundak menuntutmu untuk terus bergerak. Kamu adalah kepercayaan dan harapan orang tua. Kamu adalah sebuah pintu yang diharapkan kelak dapat membantu adik-adikmu. Wajah ayah ibu adalah dirimu. Kamu harus berusaha sebaik mungkin di tengah segala keterbatasan.

Kamu adalah pejuang. Saat kamu lahir, bisa jadi keadaan finansial orang tua belum mapan betul. Segala macam perjuangan telah kamu rasakan. Makan dengan garam, menimba air di sumur, mencuci baju tanpa mesin, mencari kayu, mencari rumput, menggembala kambing, membuat api di tungku, menanak nasi pakai ketel, dan lainnya. Sulung, kamu sangat hebat!

Saat Dewasa: Mengalah Lagi

Untuk membiayai sekolah adik-adik, kamu terpaksa tidak kuliah, atau mungkin menundanya sejenak. Pendidikan adik lebih penting. Rasa iba pada orang tua membuatmu memutuskan semua itu. “Tak masalah aku nggak kuliah, yang penting adik bisa kuliah. Nasibku biar nanti aku yang menjalani,” katamu pada ayah di malam hari, ditemani dua cangkir kopi.

Kamu bekerja keras, dari pagi sampai malam. Semua lelah terbayarkan saat kamu sudah bisa menyekolahkan adik-adik. Kebahagiaanmu bertambah saat kamu sudah bisa sedikit demi sedikit merenovasi rumah. Lantai yang tadinya hanya disemen, kini sudah keramik. Tadinya tembok masih belum halus, kini telah mulus dan dicat warna-warni.

Betapa gembiranya dirimu, saat melihat senyum ayah ibu melihat semua pencapaianmu. Sebaliknya, kamu begitu sedih ketika mereka melihat kegagalanmu dan harapan padamu belum bisa kamu wujudkan. Kamu merasa sangat bersalah, dan terus menyalahkan dirimu sampai detik-detik menjelang tidur. Perasaan itu akan terus bercokol dalam dada dan menjadi hutang yang menuntut untuk dibayar suatu hari nanti.

Tetap Semangat

Menjadi sulung memang tidak mudah. Tetapi, lihatlah! Kamu bisa melakukannya! Percayalah bahwa beban-beban yang kamu rasa dan pikirkan itu, nyatanya sebuah manifestasi dari keinginanmu untuk membahagiakan orang tua. Mereka tak menuntutmu untuk mencapainya, meskipun harapan akan selalu membara. Namun, jiwa kompetitif dan ambisiusmu muncul, mendobrak segalanya untuk mencapai semua.

Selama ini kamu banyak salah paham dengan orang tuamu. Luruskanlah, seperti saat dirimu menjadi penengah masalah antara adik dan ayah ibu. Sebagai orang yang terlatih menjadi mediator, tentunya kamu lebih terampil untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Kamu bisa, Kak!

Tetap kuat dan selalu bahagia, Sulung!

Note: Diari ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Nantikan bagian selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: